Tak
pernah sedikit pun aku bayangkan/ Betapa hebatnya cinta yang kautanamkan/
Hingga waktu beranjak pergi/ Kau ampuh hancurkan hatiku//
Pukul 10.47
Padahal belum tengah hari, tapi hujan sudah mampir saja. Di halaman
mungil depan rumahnya, tanaman dan rumput sudah kuyup semua, riak hujan sampai
mengenai jendela yang padahal dijeda teras satu meter. Hujan agaknya sedang pamer
diri di kota bandung hari itu.
Satu jendela membingkai kelabu itu. Sambil
merekatkan mantel, dirinya nampak memandang sekilas. Seolah melihat hati
sendiri, bisiknya dalam hati. Di hatinya, meski bukan air, tapi gemuruh yang
sama sedang terjadi. Dirinya lalu duduk di dalam kamar sambil mengoprek laptop.
Tangannya lincah berpindah-pindah folder, naik turun, kanan kiri, tutup buka.
Dirinya mencari sesuatu.
Sambil terus menggigit bibir bawah, dirinya
mencari dengan berbagai kata kunci. Tambah satu kata, rubah satu huruf, tambah
lagi kurangi dan ubah lagi. Saat sadar yang dicarinya memang sudah hilang,
tiba-tiba saja dirinya hentikan jarinya yang gemetar. Matanya mulai berair
banyak dan, setelah dirinya mengedipkan mata, setetes air basahi pipi kanannya.
Hujan dalam benaknya tak kuat dibendung lagi.
Sebenarnya yang dirinya cari biasa saja. Hanya
dua buah file, yang satu teks dan lainnya foto. Meski bukan berkas istimewa,
dirinya tetap menganggapnya paling berharga.
Saking istimewanya, keduanya disimpan di
direktori yang panjang. Sepuluh kali folder dalam folder. Teks tadi adalah
tulisannya soal pengalaman tiga tahun lalu. Tentang bagaimana pertautan
jalannya dengan seseorang. Foto tadi pun, masih sama sederhananya, yakni saat
orang itu merangkulnya. Picisan. Murahan. Memang.
Tahun lalu, dirinya pernah begitu kalap dengan
keduanya hingga menghapus semua. Dirinya tahu pernah menghapusnya. Alasan
kenapa dirinya tetap mencari adalah hati kecilnya berharap itu masih ada.
Setelah tahu keduanya telah hilang, dirinya
begitu marah pada dirinya yang dulu tega. Dirinya luapkan dengan dengus yang
mampu menggeser kertas. Kini, dirinya begitu sakaw, persis pecandu narkoba yang
tidak ngisap tujuh hari. Bukan untuk apa-apa. Sekadar damaikan hatinya yang
lagi dijajah rindu.
Dirinya sadar betul, rindu memang bukan ide bagus bila sedang sendiri.
Jika rindu hadir, dirinya bisa saja jadi ogah berbuat apa pun, bahkan mandi,
bahkan makan. Bisa juga paginya dia merencanakan banyak hal, belasan ini dan
itu, dan berakhir dengan tidak melakukan apa-apa.
Seperti hari ini. Yang dilakukannya hanyalah
memutar enam belas lagu yang menjebak dirinya pada ingatan yang sama. Dirinya
biarkan telinganya memerah dibakar earphone,
mengikuti senandung, sesekali terisak. Sesak, dan dirinya kembali murung. Bagi
dirinya, rindu itu begitu pahit dan bikin sesak seperti minum tanah yang
diseduh.
Sebenarnya dirinya akan marah bila dibilang
pemurung. Betul. Dirinya, bila mau, bisa berubah ceria secepat kilat. Biar dirinya
tenang, sejujurnya dirinya tinggal menyeduh secangkir teh pahit, atau bersepeda
hingga sore, tak sulit.
Namun adakalanya dirinya sedang ingin syahdu
sendiri. Memutuskan untuk berleha-leha sambil sesekali meneteskan air mata.
Pahit benar, tapi baginya itu perlu sesekali. Sekadar untuk menjaga hatinya
tetap jujur. Tak sekalipun terbersit bahwa dirinya akan pernah sekonyol hari
itu.
Saat ini, meski hujan telah berhenti dan
matahari sudah menyengat kembali, mendung di hatinya belum reda juga. Dirinya,
memang, bisa memilih untuk seketika keluar dengan sepedanya, tapi tidak.
Dirinya mau duduk nanar barang satu jam lagi, sembari mendengar daftar lagu
tadi, mengingat-ngingat mataharinya yang dulu pergi.
Satria, itulah nama si matahari sialan. []
:)
ReplyDeleteand who's the girl...?
just move to the next story and you'll know :D
Deletethanks for your visit :D
Cerita yang menarik, ditunggu kelanjutannya ...... :)
ReplyDeleteterimakasih tlah berkunjung, yg hari ini sudah ada :)
Deletebagus cerita dirinya.. dirinya mau dibantu diriku tidak biar yg dirinya cari ketemu lagi? pakai recuva aja dirinya biar apa yg dirinya cari insyaallak kembali..
ReplyDeleteahaha dirimu punya ide bagus. andai dirimu berikan itu pada dirinya sebelum ini, akan beda cerita dirinya :D
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteepic rio. aku ijin ikutin yaaa -mamah
ReplyDeletewaw ternyata kamu dateng juga, makasih telah mampir mah ;)
Deleteehemmm...
ReplyDeletebatuk bu? minum obh combi :p
DeleteSudah lama baca tapi baru bisa komentar hari ini...
ReplyDeletedan komentarku adalah:
Ahiiiiwwww
Welcome back to Satria :p
Jiaaaaaa ada teh citraaaaa :p
Deletei begin to read this... n i wanna read until the end...
ReplyDelete