Monday, December 31, 2012

Epilog

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



Kau

“Boleh kenalan?” Kau baca tulisan itu di testimoni Friendster enam tahun yang lalu.

Kepada pemilik akun di seberang sana, kau akui ia adalah lelaki menarik. Di fotonya ia senyum sederhana saja, memakai kacamata yang biasa saja, ia manusia serba biasa, hanya saja kau rasa ada yang berbeda pada ia.

Pertemanan diterima


Hanya beberapa hari dan lantas kalian janjian untuk bertemu. Hari Minggu di pasar kaget lapang Gasibu Bandung. Dengan canggung kau menyapa, ia balas sekenanya. Namun justru karena itulah, hari itu kau putuskan suka dengannya. Dengan ia yang baru kau kenal tidak sampai satu minggu lalu.

Kau mencoba peruntungan untuk nyatakan cinta saat itu juga. Perjudianmu berhasil dan ia resmi jadi pacarmu. Saat itu kau sudah punya pacar, seorang perempuan yang kau kenal sejak SD hingga SMA sekolah bersama. Tapi pacar barumu ini beda. Benar-benar beda. Pasti itulah alasanmu.

Kau berubah, pacar pertamamu jadi terabaikan. Kau jadi suka main ke indekos pacar barumu, bermain bersama, main piano dan bernyanyi bersama, saling berbagi mesra, tidur bersama. Kalian berciuman, bermesraan. Tapi tak di mall, atau taman, atau restoran, karena orang lain pasti bergunjing. Cukup di indekos saja.

Kau sama sekali tak mampu berkata saat melihat sms mesra dari inisial SR malam itu. Ia yang sedang tidur lantas kau bangunkan dengan kasar. Mendebrak alam mimpinya dengan segudang pertanyaan penuh rasa cemburu.

“Heh Dika, siapa sih SR? Bukan si Satria Rizan kan?!” tanya kau berbau curiga.

“Apaan sih?! Ganggu gue tidur aja lo, Nathan!” ketus ia gelagapan.

“Heh jawab dong, elo gak sama cowok lain kan?!”

“Elo tuh sama cewek lu terus!”

Kasur itu hanya diam. Menjadi saksi pertengkaran hebat kalian malam itu. Kalian bertengkar hebat. Kalian saling memukul. Gelas jatuh dan pecah. Kau merasa dikhianati, kau merasa dipermainkan. Gigil malam itu tak surutkan niatmu untuk pulang saat itu juga. Membawa motor kencang, kau mengumpat pertemuan di Friendster satu tahun sebelumnya.

Kau ingat pacar lamamu, perempuanmu. Hatimu mengumpat pacarmu yang baru putus itu. Tapi di lubuk hatimu yang terdalam, sebenarnya kau hanya mengumpat dirimu yang bisa-bisanya mencintai seorang lelaki. Seorang lelaki bernama Andika Nugraha.

Kemarin di Facebook kau iseng mengajak kenalan orang baru : Raka Ryandika

Pertemanan diterima.

Kau tulis di dindingnya. “Hai, boleh kenalan?”

Kamu

“Hai, boleh kenalan?” Kamu baca tulisan itu di dinding Facebook kemarin.

Orang itu bukan pertama kali kamu tahu. Nama itu sudah beberapa kali disebut oleh dia dan ia di berbagai tempat, waktu dan kesempatan. Nama yang kamu lihat di daftar pesan Facebook ia. Nama yang masih punya perasaan pada ia. Mantar pacar ia. Mantan pacar Andika.

Maka kamu langsung menulis pesan pada kau.

Hai Jonathan, kenal aku dari Dika ya?
Ok aku app :)

Kau dan Kamu

Jonathan dan Raka yang kesepian. Bertemu dalam satu kebetulan. Berkenalan. Berbagi satu pengalaman. Berbagi satu keluhan. Berbagi satu tujuan.

Inikah permulaan? {}

Cerita 31
Simpul

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



I

Prolog
Perkenalan 

 
Pada awalnya adalah sebuah perkenalan. Di satu pertemuan komunitas kampus. Sore hari. Saat hujan. Ketika Rio menyebut nama dan menyambut salamnya, tak ada yang Rio pikirkan. Hanya berkenalan. Itu saja.

Perkenalan biasa itu berkembang di luar perkiraan. Dia mengajak Rio bermain. Bermain, jalan, karaoke yang biasa saja. Lalu kebersamaan itu berkembang lebih erat. Kebersamaan yang jadi persahabatan.

Detik demi detik. Jam demi jam. Hari demi hari. Tiap kerikil itu terpadatkan satu per satu. Membangun gunung perasaan yang tak ada tandingan. Hingga akhirnya sulit dihancurkan.

Tanpa disadari. Rupanya persahabatan itu berubah arah. Persahabatan ini mulai bicara cinta. Cinta yang biasa. Seharusnya. Seharusnya cinta yang biasa.

Tapi cinta ini tidak biasa. Rio lelaki. Dia juga lelaki. Lelaki dengan lelaki. Kenapa juga tak boleh ada cinta hanya karena kelamin sama? Rio tak tahu.

Rio mengulas kenapa dirinya harus kenal, harus dekat, harus intim, bila akhirnya ditinggal pergi. Ditinggal dalam kesendirian. Tanpa bisa cerita pada siapa-siapa. Lagi pula siapa yang mau dengar bahwa Rio patah hati karena seorang lelaki?

Maka Rio ingin sendiri.

Posting

II

Posting
Posting


Ayunita : Ini dua-duanya laki-laki Raka?
Raka : Silakan simpulkan sendiri hehe

Posting
Posting


Tika : Aku suka gaya ceritamu
Raka : Hehe terimakasih

Posting
Posting
 
Posting
Posting
 
Posting
Posting
 
Posting 


Asmara : Agak geli waktu sadar kalau keduanya pria. Tp kalau aku bayangin tokoh di cerita sebelas itu laki-laki dan perempuan, maka buat aku cerita sebelas sangatlah unyu dan romantis :D
Raka : Oh ya? Sama aku juga geli waktu nulisnya haha

Posting

Hadi : Andai Rio ada di dunia nyata... Gila...
Raka : Dia ada

Posting
Posting

Posting


Raka : Di akhir cerita, aku bakal putar realitas.
Hujan : Wah pasti semakin bertanya-tanya

Posting
Posting


Saras : Baiklah... cerita besok bakal lebih rame nih.. ga sabar nunggu besok :p
Raka : Yiiihaaaa... Heh kamu yang penasaran, itu yang 18 Desember udah ada

Posting

G : Cie kangen yang dulu ya?
Raka : Nemu fotonya di facebook :(

Posting
Posting

Posting 

Al jafara : Tenang Rio, sampai sekarang aku masih ikuti ceritamu kok
Raka : Terimakasih telah mengikuti cerita ini hingga hari ke-21 :)

Posting
Posting
 
Posting
Posting


Rachmiani : Iiiiih kamuuu... Cerita yang kemarin kenapa kosong gitu? Bodor.
Raka : Apalagi cara yang paling ampuh gambarkan kekosongan selain kosong itu sendiri?

Posting
Posting


Azkiya : Oh ya aku ngga sengaja baca 24 jam-nya Andrei Aksana. That makes me realize that you’re much like him. The style
Raka : Oh ya? Masa sih?

Posting
Posting


Deyn : Dari awal aku sudah sadar bahwa tokoh Rio itu sebenarnya kamu
Raka : Oh ya? Hahaha

Posting
Posting

Epilog Posting

III

Bandung---21 November 2012---pukul enam sore

Aku


Aku duduk bersama seorang teman. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kami saling curhat. Kami saling jujur. Membuka pengalaman. Soal aku dan kamu.

Tak pernah aku sangka aku bisa cerita ini. Cerita bahwa aku pernah menyukai lelaki. Aku merasa dimengerti. Aku merasa dipahami. Aku merasa dihargai.


Saya

Saya duduk bersama kamu. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kita saling curhat. Kita saling jujur. Membuka pengalaman. Soal kamu dan dia.

Tak pernah saya sangka kamu bisa cerita ini. Cerita bahwa kamu pernah menyukai lelaki. Saya ingin mengerti. Saya ingin pahami. Saya ingin hargai.

Dirinya

Dirinya duduk bersama teman dirinya. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kalian saling curhat. Kalian saling jujur. Membuka pengalaman. Soal dirinya dan dirimu.

Tak pernah diriku sangka dirinya bisa cerita ini. Cerita bahwa dirinya pernah menyukai lelaki. Diriku harus mengerti. Diriku harus pahami. Diriku harus hargai.

Bandung---21 November 2012---pukul delapan malam

Aku

“Jadi begitulah kisahku” kataku.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata teman.

Saya

“Jadi begitulah kisahku” katamu.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata saya.
“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” katamu.
“Oh ya? Kamu berani?” kata saya.

Dirinya

“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” kata dirinya.
“Oh ya? Kamu berani?” kata teman dirinya.
“Mungkin”
“Apa namanya?” tanya teman dirinya lagi.

Saya

“Apa namanya?” tanya saya lagi.

Aku

“Apa namanya?” tanya teman lagi.
“Kertas kusut,” jawabku.

Untuk Satria dalam kehidupan nyata []


Sunday, December 30, 2012

Cerita 30
Sudah

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



And I don’t want the world to see me/ Cause I don’t think that they’d understand// 
When everything’s made to be broken/ I just to know who I am//

---Iris, Goo Goo Dolls

Pukul 18.33

Selepas satu cangkir besar kopi, dirinya merasa baikkan. Syukurlah, pikirnya. Tak seperti dulu, kini dirinya menghargai lagi bercelana pendek dan berkaus oblong, menjalani hari dengan tidak produktif, menonton gosip di televisi, kesiangan, dapat surat tilang. Tertawa untuk alasan yang sebenarnya tidak lucu. Betapa normalnya dunia. Dirinya bersikap beda dalam menghadapi hidup.

Dirinya bergegas duduk manis di depan televisi. Menyalakannya dan menontonnya secara seksama. Sinetron. Sinetron. Sinetron. Berita.

Berita. Sudah lama sekali dirinya tidak tahu perkembangan dunia. Artis satu bercerai dengan artis dua. Artis tiga selingkuh dengan artis empat. Artis lima menikah dengan artis enam. Pertunjukan jatuh cinta. Inilah dunia dirinya yang baru. Yang dipenuhi oleh infotainment.

Sekelibat saja dirinya berpikir. Kenapa istilahnya harus jatuh cinta? Dirinya mengira-ngira. Kenapa bukan bangun cinta atau bangkit cinta?

Kata Theoresia Rumthe, istilah itu menempatkan manusia pada posisi tak bisa melawan. Seolah cinta punya kekuatan besar dan manusia hanya mampu menerima. Tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya ingin sekali menolak gagasan itu. Namun tidak bisa. Bukankah dirinya sudah jadi contoh yang amat jelas? Dirinya tak bisa melawan saat gelombang perasaan itu datang. Baiklah, dirinya setuju. Mau tak mau.

Bila istilahnya jatuh, maka luka sudah jadi konsekuensi. Maka setelah luka adalah sakit. Namun memang, seperti anak kecil yang belajar berjalan, jatuh dan luka adalah proses belajar. Belajar untuk bisa berjalan lalu berlari. Maka terlukalah sebelum berlari. Cinta adalah gagasan paradoks seperti itu.

Dirinya menerawang. Benar juga bila manusia tak pernah bisa menolak. Manusia, dalam batasan tertentu, tak bisa mengatur hidupnya. Persetan dengan perencanaan. Yang manusia hadapi adalah jutaan kemungkinan. Tak ada yang bisa memilih siapa yang harus menyukai, siapa yang harus peduli, siapa yang harus membenci. Tak ada. Maka saat seseorang datang, berkenalan, peduli, dekat dan akhirnya pergi, adalah hal-hal di luar kuasa. Tak bisa kita pilih. Termasuk bila orang itu lelaki. Termasuk bila orang itu dirimu.

Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus dirimu. Kenapa bukan perempuan saja. Kenapa bukan diriku. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti. Dirinya tak bisa ingat bagaimana, tak bisa ingat kenapa, dirinya berakhir seperti ini.

Berakhir seperti ini. Dirinya sempatkan mengulas kegiatan hari ini. Mencari foto di laptop kala pagi, menangis di bawah pancuran kala siang, berkopi kala petang, dan menonton gosip seraya bergumam kala malam. Seharian sibuk dalam kenangan. Hanya mengenang. Selain mengenang adalah mengenang.

Seperti saat dirimu merangkul dirinya tanpa perlu diminta. Seperti membawa roti dan susu cokelat tanpa perlu diminta. Seperti membawa dirinya bersama tanpa perlu diminta. Mengenang dirimu yang membawa paradoks.

Seperti ratusan hari sebelumnya, dan sangat mungkin ratusan hari setelahnya. Namun di malam yang bersahabat ini dirinya bertekad. Tekad untuk menyudahi segala keganjilan. Bifurkasi sudah sampai rupanya.

Tak akan ada episode-episode lanjutan. Apalagi sekuel. Tak akan ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang. Mulai mencari hidup yang layak dijalani. Bukan karena enggan, bukan karena benci. Karena memang sudah cukup.

Dirinya cukupkan menangisi dirimu. Tak akan ada air mata untuk dirimu lagi. Air mata perlu dihemat. Hanya keluar untuk kejadian luar biasa, bukan untuk picisan. Dirinya bergumam menyatakan berduka cita, turut berbelasungkawa pada satu nama. Nama yang takut dirinya sebut sejak dua tahun lalu. Nama dirimu. Satria.

Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus Satria. Kenapa bukan perempuan. Kenapa bukan Langit. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti.

Dirinya cukup memahami ketidakmengertiannya.

Dirinya tersenyum.

Diriku tahu semuanya. []

Saturday, December 29, 2012

Cerita 29
Satria Rizan

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


I

Satria

Rumah Satria, 17 Juni 2010 pukul 07.27 

“Selamat pagi!” ujarmu padaku cengengesan. Bau keringat, muka mengkilat dan nafas tak sedap itu ada pada setiap kita, tapi rasa seganmu untuk menyapa saat bangun itu lenyap entah ke mana. Masih di ruangan yang jadi saksi bisu janji kita kemarin malam.

Kamu menempelkan tanganku ke dahiku, satu lagi ke dahimu. “Demamku sudah turun dalam semalam. Terimakasih,” katamu.

ASTAGA

“Kenapa kak?”

KENAPA AKU

“Aku balik ya, nanti siang ada kuliah, ingin beres-beres kos dulu”

KENAPA AKU TEGA

“Aku yang demam kok kakak yang otakmu berhenti?”

Dua orang yang sama, kamar yang sama, suasana tak terdefinisikan. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku melihat korban dari egoku. Aku merasa hina. Aku ingin membunuh diriku sendiri.

Aku kaget bukan kepalang. Aku menarik tanganku dengan cepat. Lalu memakai kausku yang terjatuh di lantai dan bergegas ke kamar mandi. Aku bodoh aku bodoh aku bodoh aku bodoh aku bodoh. Aku masih belum mampu berkata-kata.

Sampai di kamar mandi pandanganku sudah tak fokus. Tanganku gelagapan mencari kran. Begitu dapat, aku cepat menyalakannya deras-deras. Fragmen-fragmen kejadian semalam bermunculan di otakku. Bergantian, tumpuk menumpuk, membebani otakku yang makin tak kuasa. Ada satu sosok yang muncul, sosol yang kukenal baik. Kamu. DUG!

Kamu. Kamu.

Semalaman aku tak tidur. Memikirkan kamu. Kamu yang tak seharusnya ada di sini, dalam ikatan yang seperti ini. TIDAK. Kamu lelaki baik-baik. Seharusnya kamu seperti lelaki lain yang menyukai perempuan, menikah, punya anak. Seharusnya kamu bahagia. Bukan menderita.

Aku mengutuk diriku sendiri yang tega membawamu sejauh ini. Maaf aku berkenalan dengamu. Mencintaimu. Mengubahmu. Membiarkanmu tersesat. Maaf bila akhirnya seperti ini. Maafkan aku. Ini semua memang salahku. Maafkan aku meski aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri.

Air mata.

HARUSKAH?

Aku tahu kita sudah sejauh ini. Namun bagimu tetap ada jalan kembali. Maka pergilah, jauhi aku, selamatkan dirimu. Sebelum kita lebih jauh lagi. Lupakan aku. Jangan hubungi aku lagi. Kembalilah pada hidupmu yang damai, yang tanpa aku. Andai kamu tahu berat sekali memutuskan ini. Pasti sakit pula saat prosesnya, namun kita tak punya pilihan.

Air mata.

BAIKLAH

Terimakasih atas setiap kebersamaan kita. Kamu memang menakjubkan. Kini, jadilah lelaki yang kuat. Percayalah, duniamu tanpa aku, lebih baik dari pada di sini bersamaku. Tinggalkan aku di sini. Tinggalkan aku yang akan menyesal seumur hidup.

Semoga aku belum terlambat. Kali ini aku harus beranikan untuk bicara semua. Baiknya aku kumpulkan tenaga, bergegas menuju kamar, berkata padamu apa yang aku khawatirkan.

Aku menutup kran. Aku bergegas ke kamar. Aku sampai. Aku menyesal mendapatimu sudah hilang tanpa pesan.

II

Satria

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 18.03

“Eh, kok si Dika ikutan lagi?” ujarmu padaku yang baru datang, bersama dia.

Empat teman yang sudah datang lebih awal hanya menoleh padamu.

“Aku yang ajak,” responku.
Maaf Raka. Ini agar kamu mulai membenciku. Kamu lelaki baik-baik, harusnya kamu berpacaran dengan perempuan, menikah, berkeluarga. Bukan denganku.

“Aku kira cuma kita berenam”

Aku mengangkat bahu.

“Kemarin-kemarin kakak ke mana? Kenapa sulit dihubungi?”

“Oh, ponselku gangguan.”
Maaf Raka. Aku sedang mengumpat diriku yang telah membawamu sejauh ini.

“Oh” jawabku hambar.

Barcode Billiard, 24 Juni pukul 2010 20.21

“Raka, kamu sakit?” tanyaku.
Raka, kamu baik-baik saja kan? Maaf kita pernah bertemu 

“Gak apa-apa,” responmu.

“Baru kali ini kamu kelihatan murung pas main”
Maaf Raka, bencilah aku sekarang juga dan pergilah, selamatkan dirimu.

“Oh ya?”

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 23.47

“Kamu aneh hari ini,” katamu.
Maaf Raka, selamatkan dirimu. Kamu terlalu baik untuk cinta yang begini.

“Memang. Baru sadar?” kataku.

“Kamu gak suka dibawa ke billiard ya?”
Andai kamu tahu betapa tersiksanya aku membawamu ke sini. Cepat benci aku.  Aku tak tahan melihatmu menderita. Lekas. Kembalilah ke duniamu yang dulu.

“Tuh tahu.” 

III

Satria 

Skywalk Cihampelas Walk, 24 Desember 2010 pukul 19.33

Andai kamu tahu, betapa aku memintamu pergi karena aku cinta. Andai kamu tahu betapa memutuskan ini seperti memutus urat nadiku sendiri. Andai kamu tahu betapa sulit melakukan perpisahan yang terpaksa direncanakan. []

Friday, December 28, 2012

Cerita 28
Kertas Kusut

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


I

Aku

Entah kapan kertas polos itu mulai kamu genggam. Lalu kamu remas hingga seperti bola. Kamu mungkin tak berniat merusaknya, hanya ingin bermain dengannya. Tapi kamu lupa, saat kamu bentangkan kertas itu lagi, mau tak mau, guratnya akan tetap ada di sana.

Sudah aku coba berbagai cara membuatnya lurus kembali. Air, setrika, jemur, tak ada yang sukses. Kini aku sadar. Sekeras apa pun aku mencoba, kertasnya takkan pernah sama lagi. Kertasnya, kusut.

Hatiku adalah kertas itu. Kamu adalah guratnya. Seperti kertas yang telah bergurat, aku hanya bisa pulih, takkan bisa sembuh. Kucinta kamu. Kemarin, kini, kelak, kapan pun.

II

Tiga kertas kusut yang menyimpan jawaban.

         Kucinta kamu. Kemarin, kini, kelak, kapan pun.

*Kertas ini terselip di tempat sampah Raka sejak 16 Juni. Lupa dibawa untuk diberikan.




Heh kamu,

Semalam aku insomnia sesaat. 
Melihatmu di sampingku tertidur nikmat. 
Hangat.
Aku jadi mengingat-ingat. 
Perkenalan kita yang kilat. 
Lalu bepergian ke berbagai tempat. 
Berakhir menjadi lebih dari sahabat.

Jujur, kamu memang yang terhebat. 
Tiap hari bersamamu adalah lezat. 
Nikmat. 
Dan aku mencintaimu setiap saat. 

Namun semalam aku ingat. 
Tak seharusnya kamu jadi terlibat. 
Terlibat dalam cinta yang tersesat. 
Aku tak mau kamu kualat. 
Aku ingin kamu selamat. 
Maka aku ingin kamu minggat. 
Kembali ke duniamu yang sehat. 
Tempat kamu bisa damai hingga kelak beristirahat. 

Hina saja aku berkhianat.
Bilang pada semua yang lewat. 
Aku memang laknat.
Aku tamat.

Maka kini, tinggalkan aku selagi sempat.  
Tanpa aku kamu akan kuat. 

Semoga aku tidak terlambat.

*Kertas ini terselip di kolong kasur Satria sejak 17 Juni. Terlupakan.



         Raka, ML yuk!
         Di kos gue, Selasa jam 8 malem

*Kertas ini terselip di lemari pakaian Andika sejak 26 Juni. Lupa dikirimkan.


III

2011


[Raka Ryandika]

Rutinitas kampus kembali berjalan
Imajinasinya diluaskan buku-buku
Obrolannya jadi ringan dan beragam

Raka kini berubah
Air mukanya jadi riang
Hampir tak pernah murung
Aktifitasnya segudang
Dunianya yang dulu
Intens juga sibuk
Aktif lagi mendekati Langit
Nama Satria perlahan terlupakan

[Satria Rizan]

Yang dipikirkannya hanya laporan
Uang untuk makan dan sewa indekos
Dia kerja di maskapai penerbangan
Ini memang pekerjaan incaran

Satria kini berubah
Aksinya kini profesional
Tak ada lagi bioskop dan karaoke
Rencana kerja adalah fokusnya
Ini dunianya yang baru
Ada Raka yang perlahan terlupakan

[Andika Nugraha]

Cinta itu jadi kamuflase
Incaran demi incaran
Tak satu pun dikomitmenkan
Rahasianya pernah nyaris terbongkar
Aksinya malah makin nakal

Andika tak berubah
Badan demi badan
Ada Satria termasuk
Dunianya yang sama
Ini dunia seks tanpa cinta []