(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
Saya
Skywalk seluas dua kali sepuluh meter persegi. Begitulah dunia kalian saat ini. Tempat kalian berdiri berjarak, saling beku, seolah ada beton imajiner yang membatasi.
...
...
...
“If there is no purpose of this meeting, I’ll go now,” ujar kamu dari lima meter belakang punggungnya. Setelah sepuluh menit diam berjarak, akhirnya kalimat pertamamu keluar juga.
Pemilihan bahasa Inggris itu, seperti saat kalian nyatakan perasaan enam bulan sebelumnya, menandakan ini akan amat sangat serius.
Dia menoleh, dan melambaikan tangan mengajakmu ke sisinya. “Come, we haven’t meet since July. Where did you go?” ujarnya perlahan kepadamu.
“Should I start?!” ujarmu geram.
Kalian diam. Hanya ada musik natal riuh rendah mengisi jarak antara kalian.
“Okay, I know that you are... ummm” jedanya tak yakin. “You are angry to me. Very very angry. So, I’ll start.” Lalu dia merangkul bahumu.
Kamu tak suka, atau sebenarnya suka namun marah membuatmu gengsi. Kamu pilih menjatuhkan tangannya ke bawah. Kamu jatuhkan pelan, karena bagaimana pun itulah tangan yang dulu mendekapmu hangat.
Dua tubuh yang sudah pernah berbagi tiap jengkal, kini bahkan enggan untuk sekadar bersentuhan. Entah kenapa, kalian tidak tahu.
Kalian terpilin di Skywalk, sebagai korban kelicikan alam semesta. Bersandar ke depan, disuguhi lalu lalang riang orang-orang, taburan bintang dan riuh rendah suasana jelang natal. Bercakap canggung lengkap dengan suasana yang tidak bersahabat. Obrolan yang sangat bukan kalian.
“Do you...,” jedanya menerawang. “love me?”
Mendengarnya kamu lantas memalingkan muka. Dengan menatap ke atas tanpa maksud, kamu mulai bersuara. “I just...” katamu penuh kontrol, tak mau mendadak dramatis. “... I don’t know.. maybe I just simply miss you.”
Dia menoleh dan berkata. “Here I am”
“NO, who are you? I don’t know.” Tanyamu retoris lalu gelengkan kepala. “I really miss Satria that I used to know. Who give me a donut, attention, laugh, jokes, those silly things.”
Kamu sempatkan menghela nafas. “And I don’t clever enough to know what is happened to me.”
Jeda canggung. Biasanya seratus kalimat per menit, kali ini, untuk berdehem saja kalian saling tunggu. Spontanitas yang biasa mewarnai keseharian kalian, kali ini entah kenapa lenyap jadi senyap. Konversasi tanpa sirkumlokusi.
“I have changed. You changed me. I’m not Raka that you used to know, that always searching, asking. Because I have that reason now. The reason that, even if I’m only sit down, or even talk about nothing, it feels...” kamu sangat ragu, kamu memilih memutus kalimatmu karena kamu yakin dia sudah tahu.
Dia melihat ke arahmu, bibirnya membuka pelan. “...like peace?” ujarnya lengkapi kalimatmu meski ragu.
Tak ada jawaban yang kamu ucap. Namun air mata yang pelan jatuh di pipimu menjawabnya. Tangis yang sangat dia mengerti kenapa. Kamu lalu menunduk, merasa bodoh sekali selalu menunggu orang yang menurutmu tidak mencintaimu. Pilu. Ngilu.
“Please back to Langit, she’s kind,” gumam dia tiba-tiba membawa orang lain ikut terlibat.
Lima bulan ini kamu sudah persiapan untuk segala jawaban, untuk keheningan, untuk kata-kata yang dibumbui emosi, tapi soal Langit samasekali di luar prediksi.
“We can’t choose who to love.” Katamu setengah berbisik. “It just happens. If I can, I wouldn’t choose you. But damn it my heart did it!”
Dia tak melawan, melainkan hanya diam. Kamu pegang tiang beranda di depanmu dan menunduk. Percakapan mulai bertensi.
“You don’t understand! I feel so.. wrong..” tambahmu dengan nada yang mengatup. “I have traveled this far, I have bet too much for this journey!”
Kini giliran dia yang buang muka. Dia menyilangkan lengan, membuat jarak. Pandangan kamu buram lagi. Percakapan timpang, hilang keseimbangan.
“Now I just feel nothing to Langit! What YOU’ve done to me?!!” kamu mulai mempertanyakan hal yang sebenarnya sangat senang kamu alami. Intonasi yang naik pitam, ditambah penekanan di kata you, kamu tahu, itu sangat merubah sesuatu. "Your kindness somehow made me sick! "
“Why did you always ask me to join you, to hang out with you, to go to the cinema, to take a lunch, to go to your home, give me another thousands of sentimental fools, and...” Kamu menarik nafas, hatimu terbatas, punya kapasitas. “And even rape me on my birthday!!!?” ungkit kamu menggebu-gebu.
Kamu punya banyak pertanyaan. Dia tak punya satu pun jawaban.
“Yeah, to SEX with me! Was that your goal of our relationship!?” Katamu dengan nada menuduh. “If it was that simple, why didn’t you just kidnap me, drugs me, and rape me on the very first day we meet!? So I can hate you at once, not like this. Please!”
“NO! It’s a big no!” pekik dia akhirnya bicara.
Kalian mulai saling ralat bertubi-tubi. Kalimat tanda seru yang memekakan telinga juga hati. Lengkap dengan gestur tunjuk muka yang berlimpah sana-sini. Pada orang-orang di sekeliling, kalian sudah tak peduli.
“You trapped me! I should know it when you asked me to go to your house!”
“NO!”
“Yes you trapped me! How dare you rape me!” katamu terpotong-potong tangis.
“NO it was not my plan!”
“What a whole-planned cheap drama!”
“It was my first!”
“You lie! How could you that expert?”
“I only sleep with the boy I love, and it’s you!”
“NO WA---!” Kecup. Sambaran bibirnya di bibirmu memotong kalimatmu.
Hambar. []
Pemilihan bahasa Inggris itu, seperti saat kalian nyatakan perasaan enam bulan sebelumnya, menandakan ini akan amat sangat serius.
Dia menoleh, dan melambaikan tangan mengajakmu ke sisinya. “Come, we haven’t meet since July. Where did you go?” ujarnya perlahan kepadamu.
“Should I start?!” ujarmu geram.
Kalian diam. Hanya ada musik natal riuh rendah mengisi jarak antara kalian.
“Okay, I know that you are... ummm” jedanya tak yakin. “You are angry to me. Very very angry. So, I’ll start.” Lalu dia merangkul bahumu.
Kamu tak suka, atau sebenarnya suka namun marah membuatmu gengsi. Kamu pilih menjatuhkan tangannya ke bawah. Kamu jatuhkan pelan, karena bagaimana pun itulah tangan yang dulu mendekapmu hangat.
Dua tubuh yang sudah pernah berbagi tiap jengkal, kini bahkan enggan untuk sekadar bersentuhan. Entah kenapa, kalian tidak tahu.
Kalian terpilin di Skywalk, sebagai korban kelicikan alam semesta. Bersandar ke depan, disuguhi lalu lalang riang orang-orang, taburan bintang dan riuh rendah suasana jelang natal. Bercakap canggung lengkap dengan suasana yang tidak bersahabat. Obrolan yang sangat bukan kalian.
“Do you...,” jedanya menerawang. “love me?”
Mendengarnya kamu lantas memalingkan muka. Dengan menatap ke atas tanpa maksud, kamu mulai bersuara. “I just...” katamu penuh kontrol, tak mau mendadak dramatis. “... I don’t know.. maybe I just simply miss you.”
Dia menoleh dan berkata. “Here I am”
“NO, who are you? I don’t know.” Tanyamu retoris lalu gelengkan kepala. “I really miss Satria that I used to know. Who give me a donut, attention, laugh, jokes, those silly things.”
Kamu sempatkan menghela nafas. “And I don’t clever enough to know what is happened to me.”
Jeda canggung. Biasanya seratus kalimat per menit, kali ini, untuk berdehem saja kalian saling tunggu. Spontanitas yang biasa mewarnai keseharian kalian, kali ini entah kenapa lenyap jadi senyap. Konversasi tanpa sirkumlokusi.
“I have changed. You changed me. I’m not Raka that you used to know, that always searching, asking. Because I have that reason now. The reason that, even if I’m only sit down, or even talk about nothing, it feels...” kamu sangat ragu, kamu memilih memutus kalimatmu karena kamu yakin dia sudah tahu.
Dia melihat ke arahmu, bibirnya membuka pelan. “...like peace?” ujarnya lengkapi kalimatmu meski ragu.
Tak ada jawaban yang kamu ucap. Namun air mata yang pelan jatuh di pipimu menjawabnya. Tangis yang sangat dia mengerti kenapa. Kamu lalu menunduk, merasa bodoh sekali selalu menunggu orang yang menurutmu tidak mencintaimu. Pilu. Ngilu.
“Please back to Langit, she’s kind,” gumam dia tiba-tiba membawa orang lain ikut terlibat.
Lima bulan ini kamu sudah persiapan untuk segala jawaban, untuk keheningan, untuk kata-kata yang dibumbui emosi, tapi soal Langit samasekali di luar prediksi.
“We can’t choose who to love.” Katamu setengah berbisik. “It just happens. If I can, I wouldn’t choose you. But damn it my heart did it!”
Dia tak melawan, melainkan hanya diam. Kamu pegang tiang beranda di depanmu dan menunduk. Percakapan mulai bertensi.
“You don’t understand! I feel so.. wrong..” tambahmu dengan nada yang mengatup. “I have traveled this far, I have bet too much for this journey!”
Kini giliran dia yang buang muka. Dia menyilangkan lengan, membuat jarak. Pandangan kamu buram lagi. Percakapan timpang, hilang keseimbangan.
“Now I just feel nothing to Langit! What YOU’ve done to me?!!” kamu mulai mempertanyakan hal yang sebenarnya sangat senang kamu alami. Intonasi yang naik pitam, ditambah penekanan di kata you, kamu tahu, itu sangat merubah sesuatu. "Your kindness somehow made me sick! "
“Why did you always ask me to join you, to hang out with you, to go to the cinema, to take a lunch, to go to your home, give me another thousands of sentimental fools, and...” Kamu menarik nafas, hatimu terbatas, punya kapasitas. “And even rape me on my birthday!!!?” ungkit kamu menggebu-gebu.
Kamu punya banyak pertanyaan. Dia tak punya satu pun jawaban.
“Yeah, to SEX with me! Was that your goal of our relationship!?” Katamu dengan nada menuduh. “If it was that simple, why didn’t you just kidnap me, drugs me, and rape me on the very first day we meet!? So I can hate you at once, not like this. Please!”
“NO! It’s a big no!” pekik dia akhirnya bicara.
Kalian mulai saling ralat bertubi-tubi. Kalimat tanda seru yang memekakan telinga juga hati. Lengkap dengan gestur tunjuk muka yang berlimpah sana-sini. Pada orang-orang di sekeliling, kalian sudah tak peduli.
“You trapped me! I should know it when you asked me to go to your house!”
“NO!”
“Yes you trapped me! How dare you rape me!” katamu terpotong-potong tangis.
“NO it was not my plan!”
“What a whole-planned cheap drama!”
“It was my first!”
“You lie! How could you that expert?”
“I only sleep with the boy I love, and it’s you!”
“NO WA---!” Kecup. Sambaran bibirnya di bibirmu memotong kalimatmu.
Hambar. []

langit itu sapa ya????
ReplyDeletewaaaa....
pd g mau ngakuuu