Saturday, December 8, 2012

Cerita 8
Sama Sama Tahu

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



I

Saya

Sedang apa dia sudah setengah jam ini memandangimu. Di indekosmu, menjelang sore, saat tak ada yang datang selain kamu yang ketiduran, dan dia yang kaget melihatmu tidur berbantal lengan. Bingung berbuat apa, dia putuskan untuk duduk bersila di hadapanmu. Memandangi bibirmu yang kadang bergerak.

Kamu sendiri pasti kelelahan setelah dua kuliah sejak pagi. Mengumpulkan tenaga untuk satu kuliah lagi di sore ini. Dia ingat sekali jadwalnya. Ini hari Rabu dan kalian tak bisa pergi nonton saat sore seperti layaknya Senin, Selasa, dan Jumat.

Empat hari lalu dia beranikan diri memegang tanganmu. Dia canggung. Tapi, melihatmu tak berekspresi saat dipegang, dia jadi tersenyum. Mungkin kamu memang mau menerima dia.

Dia ingat sekali ketika bertemu denganmu di pertemuan perdana komunitas kampus. Pertama melihatmu dia merasa sesuatu yang berbeda. Entah apa, tapi dia terkesan pada senyuman dan jawabanmu yang kadang begitu konyol.

Aku

Sedang apa kamu sudah setengah jam ini memandangiku? Barangkali kamu kira aku tertidur pulas. Barangkali kamu pikir aku kelelahan hingga tertidur. Namun sejujurnya, aku tak bisa tidur saat kamu tiba-tiba datang ke indekosku, lalu duduk di depanku, memandangiku.

Saya

Tak ada satu pun kata yang kalian bagi. Tapi kalian berbagi makna yang sama atas keheningan yang satu ini. Kalian kembali mengulas hari pertama kalian. Bertemu, berkenalan, berbasa-basi, berbincang, jalan-jalan, karoke, makan, minum, foto, nonton, sms-sms, candaan, ejekan. Sampai pegangan tangan empat hari lalu.

Aku

Berada sedekat ini membuatku sesak. Maka aku membuat tidurku jadi pura-pura terlentang agar bisa pura-pura bernapas lebih leluasa. Aku lantas menghela nafas.

Saya

Seketika dia melihatmu menghela nafas panjang. Dia kaget. Dirimu lalu memutar arah tidur jadi tengadah. Masih ngantuk rupanya.

Kalian selalu menyempatkan waktu bertemu. Biasanya kalau teman-teman yang lain ada, semuanya senang bercanda. Tema umum kalian biasanya homo. Sebenarnya dia sedikit tersindir. Tapi di sisi lain dia merasa beruntung. Dia jadi bisa pura-pura meluk, cium atau bilang cemburu sama kamu. Teman-teman yang lain paling hanya tertawa melihatnya. Mereka anggap itu bercanda, tidak tahu dia sebenarnya serius.

Menghadapi teman-teman yang gemar mengejek, sebenarnya dia kalem saja. Toh mereka cuma bercanda. Namun kadang dia melihat wajahmu begitu khawatir. Bila itu nampak, yang akan dia lakukan adalah bertindak lebih ekstrim, misalnya tiba-tiba memelukmu erat. Saking ekstrimnya, semua melihat itu sebagai candaan. Kamu lekas tenang, sedang dia yang dapat kesempatan jadi senang.

Dia tak tahu kenapa kalian dibilang adik kakak. Toh setiap bertemu berdua, sebenarnya kalian melakukan hal biasa saja. Mengobrol soal dosen, soal kuliah atau program di televisi. Seringkali obrolan kita penuh basa-basi soal apakah di antara kalian masih ada kuliah atau tidak. Bila percakapan lebih berkualitas, paling kalian mengobrol soal film dan saling mengejek. Nista sekali kalian ini.

Tiap momen kalian berharga. Tapi sejujurnya, bagi dia tak ada yang lebih baik dari ini. Yakni saat kamu tertidur, dan dia memperhatikanmu dari dekat. Seperti sekarang. Ingin sekali dia memelukmu erat.
 
 
II

Raka

Tiap momen kita berharga. Tapi sejujurnya, bagiku tak ada yang lebih baik dari ini. Yakni saat aku pura-pura tertidur, dan kamu memperhatikanku dari dekat. Seperti sekarang. Ingin sekali aku dipelukmu erat.

Baiklah, hari ini aku cukupkan memandang dirimu. Saatnya pura-pura bangun dari tidur yang pura-pura. Terimakasih telah menemaniku satu jam ini.

Perlahan aku pura-pura membuka mata dan pura-pura terkejut melihatmu di samping kanan. Masih pura-pura. Namun aku bingung melihatmu yang sudah tertidur. Kenapa malah kamu yang tertidur? Kali ini aku betul-betul bertanya. Maka aku menepuk bahumu.

“Heh kak Satria jelek, bangun,” ucapku. Bersamaan dengan tepukkanku di bahumu, kamu terbangun dan setengah bangkit.

“Raka masuk kelas dulu, ya?”

“Oh iya iya,” katamu setengah mengigau. Kamu nampak bingung kenapa jadi kamu yang tertidur.

“Masih mau di sini? Ini kunci nanti kakak yang bawa ya?” Tanyaku buru-buru. Kamu mengangguk.

Aku lalu membawa tasku dan cepat memakai sepatu. Aku menoleh dan tersenyum, lantas pergi meninggalkan kamu sendirian.

Satria

Baiklah, hari ini aku cukupkan memandang dirimu. Saatnya pura-pura tidur dari bangun yang pura-pura. Terimakasih telah menemaniku satu jam ini.

Perlahan aku pura-pura menutup mata dan pura-pura terbangun dibangunkan kamu. Lalu aku pura-pura mengigau dan ngantuk. Namun sejujurnya, aku tak bisa tidur saat aku tiba-tiba datang ke indekosmu, lalu duduk di depanmu, memandangimu.

Kita sama-sama tahu. []




5 comments:

  1. bused....
    aq mau deh jadi tokoh cewek diantara mereka ^^
    biar mereka g jd maho :D

    ReplyDelete
  2. sekalipun aku jadi perempuan di antara mereka tampaknya mereka akan tetap seperti ini
    hahahhaa

    ReplyDelete