Monday, December 17, 2012

Cerita 17
Andika Nugraha II

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



Aku

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 06.41

“Raka, bangun Raka.” Bisiknya di telingaku.

“...” aku menoleh padanya yang sudah bangun di kananku.

“Kamu mau balik pagi kan?”

“Iya...” jawab kamu ogah-ogahan.
Sedang apa aku di kandang singa ini?

... 
...

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 18.03

“Eh, kok si Dika ikutan lagi?” ujarku pada kamu yang baru datang, bersama dia.
Akhirnya kita bertemu lagi. Tapi kenapa ada orang itu?

Empat teman yang sudah datang lebih awal hanya menoleh padaku.

“Aku yang ajak,” responmu.

“Aku kira cuma kita berenam”
Dia bukan pacarmu kan?

Kamu mengangkat bahu.

“Kemarin-kemarin kakak ke mana? Kenapa sulit dihubungi?”
Kamu tidak selingkuh kan?

“Oh, ponselku gangguan.”

“Oh” jawabku hambar.
Oh ya? Kamu tidak bicara jujur saat menjawab tapi buang muka.

Lift, 24 Juni 2010 pukul 18.28

“Kita mau ke mana? Karoke di lantai bawah kan?” tanyaku padamu dan empat teman kita.

“Kita bosan karoke. Kita diajakin Andika, ada tempat asyik katanya” ujar satu teman sambil menunjuk dia.

Barcode Billiard, 24 Juni 2010 pukul 18.44

“Raka, kamu mau nyoba nyodok gak?” ujarnya padaku.

“Hah?”
Beraninya kamu mengajakku bicara?


“Kamu mau coba gak? Kita udah setengah jam main biliard, kamu diem terus dari tadi.”

“Gak mood.”
Jangan ganggu aku. Aku tidak suka kamu ada di sini.  

Barcode Billiard, 24 Juni 2010 pukul 20.21

“Raka, kamu sakit?” tanya kamu.

“Gak apa-apa,” responku.
Ya, aku sakit, sakit hati.

“Baru kali ini kamu kelihatan murung pas main”

“Oh ya?”
Aku suka bisa main lagi sama kamu, tapi jangan dengan dia. 

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 23.47

“Kamu aneh hari ini,” katamu.

“Memang. Baru sadar?” kataku.
Aku cemburu. Tidakkah kamu tahu?


“Kamu gak suka dibawa ke billiard ya?”

“Tuh tahu.”
Bukan tempatnya. Tapi karena orang itu. 

Area Parkir Dago Plaza, 25 Juni 2010 pukul 00.12

“Makasih ya, Dika,” kata satu teman pada dia.

“Besok-besok ajakin lagi kita ke sini.” Tambah satu teman lain pada dia. Aku memincingkan mata.

“Oke kita bubar ya,” kata teman lain lagi pada aku, kamu dan dia. Mereka lalu naik satu taksi menuju rumah masing-masing yang searah. Kamu dan dia tersenyum manis. Aku tersenyum kecut.

Area Parkir Dago Plaza, 25 Juni 2010 pukul 00.17

“Tinggal kita bertiga. Kamu pulang ke mana?” katamu padaku. Aku menjawab dengan diam.

“Kamu nginep di kos Dika aja,” tambahmu padaku.

“Kenapa emang?”
Aku tidak suka dengan orang itu! 

“Udah larut gini. Lagian rumah kamu beda arah sendiri,” desakmu.

“Biasa aja sih...”
Aku ingin pulang! 

“Yuk, Satria, Raka!” teriaknya dari belakangku, menghancurkan hening aku dan kamu.

“Yuk,” kata kamu sambil mengambil motor dengan segera.
Aku mengikuti. Aku ingin mengawasi.

“Dika, Raka nginep di kos kamu boleh?” tanyamu padanya.

Dia menoleh padaku sekilas lalu berkata, “Terlalu malam ya? Boleh”

Jl Diponegoro, 25 Juni 2010 pukul 00.36 

Kita bermotor terpisah menuju rumahmu. Aku, kamu dan dia saling diam. Aku berspekulasi dalam hati.

Rumah Satria, 25 Juni
2010 pukul 00.51

“Makasih ya Dika,” katamu padanya.

“Sama-sama Sat. Makasih juga udah ngajakin main,” responnya. Kita diam.

“Udah terlalu malam, kamu tidur di kos Andika aja,” ujarmu lekas sambil menoleh padaku. Aku memilih tak merespon.

“Iya, tidur di kos aku aja gimana, Ra? Nanggung” katanya meyakinkanku. “Rumah kamu masih jauh kan? Gak aman pulang jam segini.”

Aku diam sejenak, mengambil waktu sebelum memutuskan.

Sebentar 

“Raka? Tenang aja aku jinak kok” katanya sambil tersenyum nakal.

“Maksudmu?” responku lemah.
Aku tak suka cara bicaramu 

“Bercanda,” responnya gelagapan.

“Ini,” kataku ragu “karena aku pulang larut”
Kalau bukan karena larut. Kalau bukan karena rumahku jauh. Kalau bukan karena khawatir angka kriminal. Mana sudi aku menginap.

“Oke”

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 01.13

“Kamu tidur duluan aja, Raka” tawarnya padaku sambil tersenyum. Aku diam. Aku ingin pulang, bukan menginap di kos orang yang baru berduaan dengan orang yang aku sukai. Namun aku tak punya pilihan. Terjebak rasa ingin tahu diri sendiri.

Dag dig dug. 

“Kamu anggap aja ini kos sendiri. Kalau mau roti ada di meja. Aku mandi dulu.”

“Iya.. makasih,” responku seadanya.
 Ada apa ini?

Dia tersenyum sambil membawa handuk

Dag dig dug.

“Aku duluan,” kataku padanya saat suara air terdengar dari dalam kamar mandi.
Kalau bukan karena larut. Kalau bukan karena rumahku jauh. Kalau bukan karena khawatir angka kriminal. Kalau bukan karena Satria yang minta. Mana sudi aku menginap. Aku akan selalu waspada terhadapmu.

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 06.41

“Raka, bangun Raka.” Bisiknya di telingaku.

“...” Aku menoleh padanya yang sudah bangun di kananku.

“Kamu mau balik pagi kan?”

“Iya...” jawabku ogah-ogahan.
Sedang apa aku di kandang singa ini?

“Buruan mandi sana, udah jam tujuh kurang” katanya. Aku memilih tidak bicara, langsung berdiri saja.

“Pakai handuk aku aja, yang warna putih.”

“Iya” kataku dengan nada yang didatarkan. Aku masuk kamar mandi dalam tanya.
Kenapa aku ini? Kenapa memberikan orang ini kesempatan berbaik hati?  

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 06.53

“Raka, ini sarapan kita.” Katanya menyambutku yang baru keluar kamar mandi. Aku melihat roti itu, semalam ada di meja.

“Jangan repot-repot, Dika. Aku bisa langsung pulang,” jawabku.
Sial, aku berani menyebut namanya. Tidak, orang ini jangan terlalu baik padaku.

“Sarapan doang, duduk dulu lah sebentar,”

“Makasih Dika, kamu baik. Padahal kita baru kenal.”
Kenapa kamu baik sekali? Apa yang kamu inginkan di balik semua kebaikan ini? 

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 07.11 

“Raka, selamam kamu tidur pulas banget. Bikin aku mau culik”

“Oh ya? Hahaha,” responku dengan tawa nanggung.
Kamu suka bercanda juga ya? 

“Eh Raka, ikut buka Facebook di ponsel kamu boleh? Aku belum beli pulsa.”

“Boleh, itu di belakang kamu,” ujarku sambil menunjuk lokasi ponselku tergolek.
Iya silakan, ini untuk balas budi pagi ini

“Makasih Raka”

Aku tersenyum.

Kos Andika, 25 Juni 2010 pukul 07.16 

“Dika, aku balik ya. Makasih udah boleh nginep di sini.”
Ternyata kamu biasa-biasa saja.

“Sama-sama Raka,” ujarnya sambil menepuk pundakku.

“Maaf ya,”
Aku jadi tak enak

“Maaf buat apa? Hati-hati ya kamu,” katanya lagi.

“Hehe,” aku tersenyum sambil berlalu.
Maaf mencurigaimu. Ternyata kecurigaanku tiga hari ini tidak beralasan. []

8 comments: