bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
I
Aku
“Selamat pagi!” ujarku padamu cengengesan. Bau keringat, muka mengkilat dan nafas tak sedap itu ada pada setiap kita, tapi rasa seganku untuk menyapamu saat bangun itu lenyap entah ke mana. Masih di ruangan yang jadi saksi bisu janji kita kemarin malam.
Aku menempelkan tanganmu ke dahimu, satu lagi ke dahiku. “Demamku sudah turun dalam semalam. Terimakasih,” kataku.
Tak ada kata yang kamu ucap. Mukamu stagnan.
“Kenapa kak?”
Kamu memilih diam.
“Aku balik ya, nanti siang ada kuliah, ingin beres-beres kos dulu”
Masih tak ada jawaban.
“Kakak demam?”
Dua orang yang sama, kamar yang sama, suasana tak terdefinisikan. Tiba-tiba kamu terasa asing. Aku jadi tak kenal siapa yang sekasur denganku.
Bungkam itu drastis berubah. Kamu menarik tanganmu kasar, langsung gesit bangun seolah melihatku sebagai ular yang siap memangsa. Kamu memakai kausmu yang terjatuh di lantai dan bergegas ke kamar mandi. Semuanya dalam delapan detik. Semuanya tanpa kata.
Aku langsung bungkam sambil membatin. Pikiranku masih mencari jawaban sampai kamar mandi berbunyi dari dalam. Air pancuran diputar keras, jantungku memulai intro. Menyusul suara yang menghentikan tanda tanyaku, menghentikan detak jantungku. DUG!
Cukup satu detik untuk tahu itu apa. Detik berikutnya aku berubah takut. Entah apa yang terjadi tapi itu membuatku ingin pergi. Aku langsung berdiskusi dalam hati. Ada yang salah ada yang salah ada yang salah ada yang salah ada yang salah ada yang salah. Apa yang salah? Aku tidak tahu. Bagiku, hardikan kasar akan lebih baik, jangan saling diam begini.
Aku tak nyaman di situ, maka aku langsung hentakkan badanku yang, meski sudah tidak demam, masih lunglai. Aku berharap kamu cukup lama di kamar mandi dengan urusanmu yang tidak mau aku bayangkan, setidaknya sampai aku keluar pintu.
Aku kenakan kausmu yang kemarin dipinjamkan untukku. Aku ingat baju basahku semalam, aku tak peduli. Untung saja malammu aku tak bawa apa-apa selain ponsel dan dompet. Aku ambil keduanya dari atas meja, ringkas, langsung menghambur menuju pintu.
Aku beruntung lagi, kelompok kunci menggantung di slotnya. Tinggal aku buka, keluar, mengambil kunci-kunci itu, memilih mana yang untuk gembok, memakai sepatuku yang masih lembab, membuka pagar, menaruh kunci itu di lantai semen, keluar, menyetop angkot yang pertama lewat. Bukan pulang ke rumah, yang penting pergi dari sini!
Di perjalanan aku ingat.
Ada satu yang ketinggalan, kewarasan.
Oleh-olehku, sebungkus air mata dan seikat pertanyaan.
Ada apa dengan kita? Ah bukan kita. Maksudku aku dan kamu.
II
Aku
KENAPA?
KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA? KENAPA?
KENAPA? Saat KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA? KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA? KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA? Aku KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA? KENAPA?
Berani
KENAPA? KENAPA? KENAPA?
KENAPA?
KENAPA? KENAPA? KENAPA?
KENAPA?
KENAPA? KENAPA? Bersamamu
KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA?
KENAPA? KENAPA?
Kamu KENAPA?
KENAPA? KENAPA?
KENAPA? Malah
KENAPA? Malah
KENAPA? KENAPA?
Asing KENAPA ?
KENAPA? Bagiku
KE – NA – PA – ?
KENAPA?
KENAPA? []

krna diantara kalian tdk ada aku :D
ReplyDelete