bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
When everything’s made to be broken/ I just to know who I am//
---Iris, Goo Goo Dolls
Pukul 18.33
Selepas satu cangkir besar kopi, dirinya merasa baikkan. Syukurlah, pikirnya. Tak seperti dulu, kini dirinya menghargai lagi bercelana pendek dan berkaus oblong, menjalani hari dengan tidak produktif, menonton gosip di televisi, kesiangan, dapat surat tilang. Tertawa untuk alasan yang sebenarnya tidak lucu. Betapa normalnya dunia. Dirinya bersikap beda dalam menghadapi hidup.
Dirinya bergegas duduk manis di depan televisi. Menyalakannya dan menontonnya secara seksama. Sinetron. Sinetron. Sinetron. Berita.
Berita. Sudah lama sekali dirinya tidak tahu perkembangan dunia. Artis satu bercerai dengan artis dua. Artis tiga selingkuh dengan artis empat. Artis lima menikah dengan artis enam. Pertunjukan jatuh cinta. Inilah dunia dirinya yang baru. Yang dipenuhi oleh infotainment.
Sekelibat saja dirinya berpikir. Kenapa istilahnya harus jatuh cinta? Dirinya mengira-ngira. Kenapa bukan bangun cinta atau bangkit cinta?
Kata Theoresia Rumthe, istilah itu menempatkan manusia pada posisi tak bisa melawan. Seolah cinta punya kekuatan besar dan manusia hanya mampu menerima. Tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya ingin sekali menolak gagasan itu. Namun tidak bisa. Bukankah dirinya sudah jadi contoh yang amat jelas? Dirinya tak bisa melawan saat gelombang perasaan itu datang. Baiklah, dirinya setuju. Mau tak mau.
Bila istilahnya jatuh, maka luka sudah jadi konsekuensi. Maka setelah luka adalah sakit. Namun memang, seperti anak kecil yang belajar berjalan, jatuh dan luka adalah proses belajar. Belajar untuk bisa berjalan lalu berlari. Maka terlukalah sebelum berlari. Cinta adalah gagasan paradoks seperti itu.
Dirinya menerawang. Benar juga bila manusia tak pernah bisa menolak. Manusia, dalam batasan tertentu, tak bisa mengatur hidupnya. Persetan dengan perencanaan. Yang manusia hadapi adalah jutaan kemungkinan. Tak ada yang bisa memilih siapa yang harus menyukai, siapa yang harus peduli, siapa yang harus membenci. Tak ada. Maka saat seseorang datang, berkenalan, peduli, dekat dan akhirnya pergi, adalah hal-hal di luar kuasa. Tak bisa kita pilih. Termasuk bila orang itu lelaki. Termasuk bila orang itu dirimu.
Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus dirimu. Kenapa bukan perempuan saja. Kenapa bukan diriku. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti. Dirinya tak bisa ingat bagaimana, tak bisa ingat kenapa, dirinya berakhir seperti ini.
Berakhir seperti ini. Dirinya sempatkan mengulas kegiatan hari ini. Mencari foto di laptop kala pagi, menangis di bawah pancuran kala siang, berkopi kala petang, dan menonton gosip seraya bergumam kala malam. Seharian sibuk dalam kenangan. Hanya mengenang. Selain mengenang adalah mengenang.
Seperti saat dirimu merangkul dirinya tanpa perlu diminta. Seperti membawa roti dan susu cokelat tanpa perlu diminta. Seperti membawa dirinya bersama tanpa perlu diminta. Mengenang dirimu yang membawa paradoks.
Seperti ratusan hari sebelumnya, dan sangat mungkin ratusan hari setelahnya. Namun di malam yang bersahabat ini dirinya bertekad. Tekad untuk menyudahi segala keganjilan. Bifurkasi sudah sampai rupanya.
Tak akan ada episode-episode lanjutan. Apalagi sekuel. Tak akan ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang. Mulai mencari hidup yang layak dijalani. Bukan karena enggan, bukan karena benci. Karena memang sudah cukup.
Dirinya cukupkan menangisi dirimu. Tak akan ada air mata untuk dirimu lagi. Air mata perlu dihemat. Hanya keluar untuk kejadian luar biasa, bukan untuk picisan. Dirinya bergumam menyatakan berduka cita, turut berbelasungkawa pada satu nama. Nama yang takut dirinya sebut sejak dua tahun lalu. Nama dirimu. Satria.
Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus Satria. Kenapa bukan perempuan. Kenapa bukan Langit. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti.
Dirinya cukup memahami ketidakmengertiannya.
Dirinya tersenyum.
Diriku tahu semuanya. []
Dirinya bergegas duduk manis di depan televisi. Menyalakannya dan menontonnya secara seksama. Sinetron. Sinetron. Sinetron. Berita.
Berita. Sudah lama sekali dirinya tidak tahu perkembangan dunia. Artis satu bercerai dengan artis dua. Artis tiga selingkuh dengan artis empat. Artis lima menikah dengan artis enam. Pertunjukan jatuh cinta. Inilah dunia dirinya yang baru. Yang dipenuhi oleh infotainment.
Sekelibat saja dirinya berpikir. Kenapa istilahnya harus jatuh cinta? Dirinya mengira-ngira. Kenapa bukan bangun cinta atau bangkit cinta?
Kata Theoresia Rumthe, istilah itu menempatkan manusia pada posisi tak bisa melawan. Seolah cinta punya kekuatan besar dan manusia hanya mampu menerima. Tak bisa berbuat apa-apa. Dirinya ingin sekali menolak gagasan itu. Namun tidak bisa. Bukankah dirinya sudah jadi contoh yang amat jelas? Dirinya tak bisa melawan saat gelombang perasaan itu datang. Baiklah, dirinya setuju. Mau tak mau.
Bila istilahnya jatuh, maka luka sudah jadi konsekuensi. Maka setelah luka adalah sakit. Namun memang, seperti anak kecil yang belajar berjalan, jatuh dan luka adalah proses belajar. Belajar untuk bisa berjalan lalu berlari. Maka terlukalah sebelum berlari. Cinta adalah gagasan paradoks seperti itu.
Dirinya menerawang. Benar juga bila manusia tak pernah bisa menolak. Manusia, dalam batasan tertentu, tak bisa mengatur hidupnya. Persetan dengan perencanaan. Yang manusia hadapi adalah jutaan kemungkinan. Tak ada yang bisa memilih siapa yang harus menyukai, siapa yang harus peduli, siapa yang harus membenci. Tak ada. Maka saat seseorang datang, berkenalan, peduli, dekat dan akhirnya pergi, adalah hal-hal di luar kuasa. Tak bisa kita pilih. Termasuk bila orang itu lelaki. Termasuk bila orang itu dirimu.
Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus dirimu. Kenapa bukan perempuan saja. Kenapa bukan diriku. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti. Dirinya tak bisa ingat bagaimana, tak bisa ingat kenapa, dirinya berakhir seperti ini.
Berakhir seperti ini. Dirinya sempatkan mengulas kegiatan hari ini. Mencari foto di laptop kala pagi, menangis di bawah pancuran kala siang, berkopi kala petang, dan menonton gosip seraya bergumam kala malam. Seharian sibuk dalam kenangan. Hanya mengenang. Selain mengenang adalah mengenang.
Seperti saat dirimu merangkul dirinya tanpa perlu diminta. Seperti membawa roti dan susu cokelat tanpa perlu diminta. Seperti membawa dirinya bersama tanpa perlu diminta. Mengenang dirimu yang membawa paradoks.
Seperti ratusan hari sebelumnya, dan sangat mungkin ratusan hari setelahnya. Namun di malam yang bersahabat ini dirinya bertekad. Tekad untuk menyudahi segala keganjilan. Bifurkasi sudah sampai rupanya.
Tak akan ada episode-episode lanjutan. Apalagi sekuel. Tak akan ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang. Mulai mencari hidup yang layak dijalani. Bukan karena enggan, bukan karena benci. Karena memang sudah cukup.
Dirinya cukupkan menangisi dirimu. Tak akan ada air mata untuk dirimu lagi. Air mata perlu dihemat. Hanya keluar untuk kejadian luar biasa, bukan untuk picisan. Dirinya bergumam menyatakan berduka cita, turut berbelasungkawa pada satu nama. Nama yang takut dirinya sebut sejak dua tahun lalu. Nama dirimu. Satria.
Kenapa juga yang begitu peduli pada dirinya harus lelaki. Kenapa harus Satria. Kenapa bukan perempuan. Kenapa bukan Langit. Kenapa tidak diinginkan tapi terjadi? Dirinya tidak mengerti.
Dirinya cukup memahami ketidakmengertiannya.
Dirinya tersenyum.
Diriku tahu semuanya. []

No comments:
Post a Comment