Monday, December 10, 2012

Cerita 10
Basuh

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan, 
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)




Menghilanglah dari kehidupanku/ Hilanglah dari hati yang telah hancur/
Kehadiran sosokmu kian menyiksaku/ Biarkan di sini ku menyendiri//

---Ingin Hilang Ingatan, Rocket Rockers


Pukul 15.22
Eh b2 aja? Ngapain? Setengah kaget, dirinya bangun.

Rupa-rupanya dirinya melamun hingga tertidur sesiangan. Masih di kasur di kamar yang sama. Dirinya tengadahkan kepala melihat laptopnya yang kini telah mati.

Sekejap dirinya tersenyum. Lirih, perih.

Dirinya garuk kepalanya dua tiga kali. Lamat-lamat dirinya bangkit, lantas membuka mantel, menguap, dan keluar kamar menyambar mug besarnya yang tiap hari tersimpan di meja tengah. Dirinya memenuhinya dengan air dan menghabiskannya langsung dalam dua puluh tegukan.

Dirinya sempatkan menengok ke luar jendela dan menemukan bahwa hari sudah sore. Sadar dirinya masih sedikit lunglai, bergegaslah dirinya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Dirinya pasti masih semaput, kalut. Ada yang berkecamuk. Itulah kenapa dirinya bengong saja sesaat setelah masuk. Dirinya basuh wajahnya sekali. Dirinya basuh sekali lagi, dua kali lagi, ah, empat kali dan tujuh kali lagi. Dirinya berulangkali menatap cermin dan keheranan dengan wajahnya yang buram.

Bukan cermin yang buram, suasana hatinyalah.

Dirinya lepas kaus kemudian berdiri tegak di bawah pancuran air. Tak ada basa-basi, kali ini dirinya nyalakan pancuran itu di tingkat paling deras. Tubuhnya langsung dikeroyok oleh ratusan tetes air yang menyaluri sekujur tuburnya. Belum lima detik, seluruh badannya telah kuyup.



Kalau perlu jujur, dirinya memang senang berlama-lama di kamar mandi. Biasanya, dirinya sanggup menghabiskan setidaknya lima belas menit di dalam, termasuk bersabun dua kali, keramas, cuci muka, sikat gigi, dan bernyanyi.

Tidak. Yang kali ini terjadi bukan seperti itu. Durasi memang sudah makan lima menit tapi dirinya belum juga bergerak. Tak ada ciri dirinya akan bergerak mengambil sabun, bahkan untuk sekadar melepas celananya. Tak ada yang dilakukannya selain menunduk.

Badannya bergidik sekali. Dirinya nikmat disiksa sepi, lalu menganiaya diri, pecundangi diri, tak ingin dikasihani.

Sebelum sampai sepuluh menit, dirinya silangkan lengannya depan dada. Tak ada lagi yang dirinya lakukan selain mengatur nafas. Ada pun sesekali dirinya menyusut lendir yang mulai keluar dari hidungnya. Dirinya hanya bungkam.

Giginya mulai bergemeletuk, maka kini dirinya berpikir sudah cukup. Hampir pas dua belas menit dirinya matikan pancuran itu. Kini hanya sendiri ada sunyi yang sepi yang senyap.

Setelah menghela nafas panjang, dirinya mengangkat telapak tangannya setinggi wajah. Dia lihat ujung sepuluh jarinya berkerut. Dirinya lalu tersenyum lagi sama seperti tadi.



DUGG! Tiba-tiba tangannya sudah mengepal. Namun tembok itu tak bergeming menerima bogemnya. Malah jari-jarinya yang memerah. Setengah jam lagi pasti membiru.

Menyusul satu suara. Bukan gumam nyanyian, bukan itu. Ada tarikan nafas panjang, disusul dua tetes air yang mengalir dari ujung matanya.

Dirinya terisak, lantas ingat satu hal. Tidak, sebenarnya dia ingat hampir segalanya. Dia ingat Juni itu. Dia ingat hujan itu. Sore, basah, tawa, canda, demam, obat dan segelas air putih. Bila amnesia dijual, dirinya ingin beli saat itu juga.

Satu bercak di hatinya. Yang takkan pernah bisa hilang oleh pembersih secanggih apapun.

Dirinya senyum satir sekali lagi sebelum memutuskan menyalakan pancuran seperti tadi. Kali ini dirinya merunduk lalu jongkok, tangannya dirapatkan menyambung kedua lututnya yang mulai gemetar.

Kini, dirinya ingin menangis di bawah pancuran barang dua puluh menit lagi. Dirinya berharap air mata bisa membasuh perasannya yang sudah kering dan mengeras. []

4 comments: