Wednesday, December 19, 2012

Cerita 19
Anomali I

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)



I

Aku

Juni

Di kamar, hembus angin menyusupi jendela, menyibakkan tirai, membelai lenganku. Mata yang kubuka perlahan mendapati dua garis sinar mentari yang tercetak di dinding. Ada surai pelangi di kedua sisinya. Kicau burung dari dahan pohon kamboja. Dua tetes embun yang jatuh bersusulan dari tanaman suplir di pot depan jendela. Suara kucing yang memelas. Tanah yang basah disepuh hujan. Tawa anak kecil yang bermain di TK seberang rumah. Suasana ini lebur dalam musik akustik yang mengalun pelan. Atmosferik.

Apakah semua yang kualami hanya mimpi semalam?

Di dapur aku menyeduh satu mug kopi. Aku tambah gula, susu, vanila, karamel. Asap yang mengepul darinya menawarkan saat santai yang tiada terkira. Di luar pintu rumah ada koran. Aku lihat berita utama, ada artis cerai rupanya. Aku lalu membawanya ke bangku depan. Tak lupa menarik serta mug kopi tadi, lengkap dengan dua lembar roti bakar yang dioles selai cokelat dan stroberi. Ketiganya kompak jadi sarapan buatku pagi ini.

Syukurlah kalau mereka imajinasi belaka.

Studiku membaik. Di kelas aku duduk paling depan. Tugas makalah aku kumpulkan. Nilai seratus di tangan. Bertemu teman-teman. Melakukan presentasi yang mengundang perhatian. Keuanganku membaik. Dompetku menebal. Pergi ke toko buku dan pulang membawa satu buku kuliah, satu biografi, dua novel dan satu majalah. Kesehatan membaik. Susu diminum. Sayur diasup. Makan tepat waktu. Makan tiga kali sehari. Tidur tepat waktu. Durasi tidur 7 jam. Mandi dua kali sehari. Olahraga kecil di pagi hari.

Teratur, terencana, terprediksi. Bersih, rapih, sehat. Tiada cacat. Tanpa anomali. Monoton. Inilah hidup aku, hidup yang hanya berkutat pada hal-hal biasa saja. Berkutat soal rumah, kampus, tugas-tugas kuliah. Cukup sebiasa ini.

Terimakasih Tuhan, jangan beri aku mimpi aneh lagi ya.


Tenang ...





Damai ...








Harmoni ...




Satu pesan tanpa nama masuk ke ponsel.

                Anjing lo buka facebook gue! A-N-J-I-N-G !!!!!!!!

Membawaku kembali ke mimpi buruk itu.

Jika realitas ini bisa ditukar dengan mimpi. Tak apa, aku sudi!



II

Aku


Juli

Baru kali ini. Setelah jarak-jarak yang kita jelajahi, tempat-tempat yang kita temui, belokan-belokan yang kita lewati, inci, meter dan kaki yang menyingkap semuanya.

Baru kali ini. Setelah waktu-waktu yang kita hadapi, bulan-bulan yang kita arungi, minggu-minggu yang kita penuhi, hari, jam, menit dan detik yang membangun seluruhnya.

Baru kali ini. Setelah segala yang kita alami, cerita-cerita yang kita bagi, tawa-tawa yang kita cicipi, peluk, rangkul, genggam, sapa, aroma, cium, rasa, kesan, makna, arti, dan hati.
Barulah kali ini, saat ini, di sini. Saat aku merasa semuanya begitu tak berarti. Saat aku menghitung berapa kali aku begitu dan begini. Saat aku dikhianati, dan berakhir menjadi pedagang hati, yang tiba-tiba mencari untung dan rugi.

Entah kenapa tak pernah terpikir olehku samasekali. Bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi. Mungkin memang kita yang tak tahu diri. Ah bukan kita, maksudku, aku dan kamu. Mulai saat ini, tak ada istilah kita lagi. Istilah itu adalah anomali.

III

Agustus


Dasar aku BODOH !

BEGO !!

BABI !!!



Dasar kamu BAJINGAN !!!!

BINATANG !!!!!

BANGSAT !!!!!!



Dasar hidup BANGKE !!!!!!!

BLANGSAK!!!!!!!!

BUSUK !!!!!!!!!

BIADAB !!!!!!!!!

BEJAT !!!!!!!!!!

BRENGSEK!!!!!!!!!!! []

No comments:

Post a Comment