Untuk Satria di kehidupan nyata
Semuanya berawal dari obrolan. Di tempat makan pinggir kampus selama tiga jam bersama teman sekelas. Soal seks, gender dan seksualitas. Berisi candaan, curhatan hingga pengakuan.
Tak
perlu obrolan yang lebih panjang lagi hingga saya ingat akan Raka Ryandika,
tokoh sentral dalam kisah ini. Pernah saya tulis dan terbengkalai, tulis, lalu
hapus, dan tulis ulang beberapa kali. Seketika obrolan tadi memaksa saya
merampungkannya.
Maka
inilah, sebuah cerpen yang kepanjangan atau novel yang kependekan. Sebut
novelet saja, agar naif. Pada pembaca, saya tawarkan menapaki alur pemikiran
Raka melalui beberapa petualangan tipografi. Semoga membuat yang membacanya
punya sudut pandang lebih kaya, atau paling tidak, punya teman membunuh waktu.
Mulailah tanpa prasangka. Tak
perlu bertanya apakah kisah ini nyata atau tidak. Tak perlu bertanya apakah
saya gay atau bukan. Bacalah, jawabannya
tersebar di mana-mana.
Salam hangat
---@Riorahadiant

diksi yg cantik, menggelitik ke-kepo-an.
ReplyDeleteJati tidak sabar untuk melahap cerita hingga titik terkahir.