Saturday, December 15, 2012

Cerita 15
Aku Benci Begini

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


I
Aku


“Kak Satria jelek ke mana? Baru kali ini dia gak ikut kita,” ujarku saat masuk teater bioskop beserta ke empat teman kita. Satu tiket, punyamu, tidak digunakan, aku simpan.

“Gak tahu, dua hari ini dia susah dihubungi,” ujar teman kita, teman sekelasmu, sahabatmu sejak mulai kuliah tiga tahun lalu.

“Oh,” ucapku ringkas. Dua hari yang lalu memang bersamaku, tapi kemarin aku tidak tahu. Dalam hatiku ada setidaknya empat pertanyaan yang perlu kamu jawab. Ada apa, kenapa, kenapa bisa dan bagaimana bisa kamu tidak datang? Bukankah sampai kemarin kita masih nonton berenam?

Temanku itu mengangkat alis. “Entah,” respon temanku alakadarnya.

Aku telepon nomormu dan tidak aktif.

Film ini sudah mulai, tapi aku masih belum berhenti bertanya kenapa kamu tidak hadir. Teman-teman sudah mulai tertawa, tapi pikiranku masih juga penasaran, masih mencari alasan.

Alasan soal bagaimana kamu yang, selalu mengajakku bermain, bahkan mentraktirku saat aku kekurangan uang, malah tidak datang kali ini. Pertanyaan semakin menggelembung manakala kamu, yang selalu sibuk bicarakan rencana jalan-jalan kita, kini tak beri kabar samasekali.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Ini masih mall yang sama, masih tempat karoke yang sama, masih cafe yang sama, tempat duduk yang sama, memesan makanan dan minuman yang sama, harga yang sama, suasana yang sama, teman-teman yang sama. Tapi tanpa kamu, kurasa semuanya salah.

“Woy Raka, bengong mulu!” kata teman kita. “Mikirin si Satria ya?” Tanyanya sambil memancing.

“Najis. Ngapain juga mikirin dia?” jawabku spontan. Namun bohongku memang mudah ditebak. Seperti anak kecil berbohong tidak makan cokelat, padahal mulutnya penuh bekasnya.

“Mie gorengnya,” kata teman kita lagi. “Kalau gak dihabiskan, buatku aja ya?”

Aku belum menjawab, tapi teman kita sudah main serobot saja. Tak apa, toh aku tak begitu lapar. Aku melirik ke kursi di kananku, kursi kosong yang biasanya diisi dirimu.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Aku telepon lagi nomormu dan tidak aktif, masih.

Langsung aku tulis pesan padamu,

Heh kak satria jelek, tumben ga ikut? :p

Pesan itu tak sampai juga, Pending.

Maka sepanjang sore ini aku hanya berdiskusi di dalam hati. Judulnya masih soal dirimu. Hanya satu pertanyaan itu. Mereka, empat teman kita, membiarkanku dalam sepi dan asik sendiri.

Aku tak tahu ini apa, tapi saat perjalanan pulang mataku buram karena berlinang. Aku benci bahwa aku akan berkata ini. Aku, dan seluruh nafasku, padamu, sekarang, rindu. Butuh. 

II
Aku

DI MANA PQOD018BYWUQKYFZSKPFUASEBJBMFKLPWU
YFZUSFMKAGHFM3UWGFUZGFKWUIODFYUISUQAHYRD
FAEWYFUTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASGAQREVXNH
QKMHHFEWULFHYLQWUHFSV9BKWEANCHAWHKR0CE
AYWJUGFVAUEKYW8YRAPQOAL20SKJEOSPWLV8D7QPX
LDNDOQ8AMZLAQKDPSUFHKSECBYRFHWKEUYFHKAE
BUSYTWKSFUCBYESZKXNYFRZUWEYR7WYTUWYMEW
YTUWYMWUZHYFSEUFKHMZUSXYYJKAPEMCUZGPO2
AYWJUGFVAUEKYW8YRAPQOAL20SKJEOSPWLV8D7QPX
LDNDOQ8AMZLAQKDPSUFHKSECBYRFHWKEUYFHKAE
BUSYTWKSFUCBYESZKXNYFRZUWEYR7WYTUWYMEW
CHGRUTVHUQPHQCPURHGTRNCBWYHYQWMOXBFQV
HNCROWFHUDTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASGAQRE
VXNHQKMVNCWEOLSHKBFDNVHBGHVAGHGACKUNH
BUSYTWKSFUCBYESZKXNYFRZUWEYR7WYTUWYMEW
CHGRUTVHUQPHQCPURHGTRNCBWYHYQWMOXBFQV
HNCROWFHUDTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASGAQRE
VXNHQKMVNCWEOLSHKBFDNVHBGHVAGHGACKUNH
HUEW5FSJDBQCW262U788YKUBYWUQKYFZSKPFUASE
JBMFKUYFZUSFMKAGHFM3UWGFUZGFKWUIODFYUIS
CHGRUTVHUQPHQCPURHGTRNCBWYHYQWMOXBFQV
HNCROWFHUDTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASGAQRE
VXNHQKMVNCWEOLSHKBFDNVHBGHVAGHGACKUNH
BVZVEBSGFSEAGHAWJYAUIOJSKKWQLKVUXANELILSY
UQAHYRDFAEWYFUTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASG
 YTUWYMWUZHYFSEUFKHMZUSXYYJKAPEMCUZGPO2
AYWJUGFVAUEKYW8YRAPQOAL20SKJEOSPWLV8D7QPX
BUSYTWKSFUCBYESZKXNYFRZUWEYR7WYTUWYMEW
CHGRUTVHUQPHQCPURHGTRNCBWYHYQWMOXBFQV
HNCROWFHUDTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASGAQRE
VXNHQKMVNCWEOLSHKBFDNVHBGHVAGHGACKUNH
HUEW5FSJDBQCW262U788YKUBYWUQKYFZSKPFUASE
JBMFKUYFZUSFMKAGHFM3UWGFUZGFKWUIODFYUIS
UQAHYRDFAEWYFUTSZYGFMESAUWXGKHUERGUASG
 LDNDOQ8AMZLAQKDPSUFHKSECBYRFHWKEUYFHKAE
AQREVXNHQKMHHFEWULFHYLQWFHKSECBYRFHWK
EUYFHKAEBUSYTWKSFUCBYESZKXNYFRZUWEYR7W
BVZVEBSGFSEAGHAWJYAUIOJSKKWQLKVUXANELILSY
HUEW5FSJDBQCW262U788YKUBYWUQKYFZSKPFUASE
KANDAKWUIODFYUIRUOIASUERWYQUERY32UIYWUY
RKBSZHCKUBFRYJZXYCTSZYDJWIS8ELAPWGFMESAG
P2MN9 SATRIA HQL029ASKMRUWZ3ETQUNIWHCFRBA []
 

No comments:

Post a Comment