Friday, December 28, 2012

Cerita 28
Kertas Kusut

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


I

Aku

Entah kapan kertas polos itu mulai kamu genggam. Lalu kamu remas hingga seperti bola. Kamu mungkin tak berniat merusaknya, hanya ingin bermain dengannya. Tapi kamu lupa, saat kamu bentangkan kertas itu lagi, mau tak mau, guratnya akan tetap ada di sana.

Sudah aku coba berbagai cara membuatnya lurus kembali. Air, setrika, jemur, tak ada yang sukses. Kini aku sadar. Sekeras apa pun aku mencoba, kertasnya takkan pernah sama lagi. Kertasnya, kusut.

Hatiku adalah kertas itu. Kamu adalah guratnya. Seperti kertas yang telah bergurat, aku hanya bisa pulih, takkan bisa sembuh. Kucinta kamu. Kemarin, kini, kelak, kapan pun.

II

Tiga kertas kusut yang menyimpan jawaban.

         Kucinta kamu. Kemarin, kini, kelak, kapan pun.

*Kertas ini terselip di tempat sampah Raka sejak 16 Juni. Lupa dibawa untuk diberikan.




Heh kamu,

Semalam aku insomnia sesaat. 
Melihatmu di sampingku tertidur nikmat. 
Hangat.
Aku jadi mengingat-ingat. 
Perkenalan kita yang kilat. 
Lalu bepergian ke berbagai tempat. 
Berakhir menjadi lebih dari sahabat.

Jujur, kamu memang yang terhebat. 
Tiap hari bersamamu adalah lezat. 
Nikmat. 
Dan aku mencintaimu setiap saat. 

Namun semalam aku ingat. 
Tak seharusnya kamu jadi terlibat. 
Terlibat dalam cinta yang tersesat. 
Aku tak mau kamu kualat. 
Aku ingin kamu selamat. 
Maka aku ingin kamu minggat. 
Kembali ke duniamu yang sehat. 
Tempat kamu bisa damai hingga kelak beristirahat. 

Hina saja aku berkhianat.
Bilang pada semua yang lewat. 
Aku memang laknat.
Aku tamat.

Maka kini, tinggalkan aku selagi sempat.  
Tanpa aku kamu akan kuat. 

Semoga aku tidak terlambat.

*Kertas ini terselip di kolong kasur Satria sejak 17 Juni. Terlupakan.



         Raka, ML yuk!
         Di kos gue, Selasa jam 8 malem

*Kertas ini terselip di lemari pakaian Andika sejak 26 Juni. Lupa dikirimkan.


III

2011


[Raka Ryandika]

Rutinitas kampus kembali berjalan
Imajinasinya diluaskan buku-buku
Obrolannya jadi ringan dan beragam

Raka kini berubah
Air mukanya jadi riang
Hampir tak pernah murung
Aktifitasnya segudang
Dunianya yang dulu
Intens juga sibuk
Aktif lagi mendekati Langit
Nama Satria perlahan terlupakan

[Satria Rizan]

Yang dipikirkannya hanya laporan
Uang untuk makan dan sewa indekos
Dia kerja di maskapai penerbangan
Ini memang pekerjaan incaran

Satria kini berubah
Aksinya kini profesional
Tak ada lagi bioskop dan karaoke
Rencana kerja adalah fokusnya
Ini dunianya yang baru
Ada Raka yang perlahan terlupakan

[Andika Nugraha]

Cinta itu jadi kamuflase
Incaran demi incaran
Tak satu pun dikomitmenkan
Rahasianya pernah nyaris terbongkar
Aksinya malah makin nakal

Andika tak berubah
Badan demi badan
Ada Satria termasuk
Dunianya yang sama
Ini dunia seks tanpa cinta []

2 comments: