Sunday, December 16, 2012

Cerita 16
Andika Nugraha I

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)

 

Operator

Rombongan itu, rombongan itu datang lagi! Ini dia si keluarga bahagia. Sebentar-sebentar. Rasanya ada yang berbeda kali ini, aku cek dulu.

Raka dan Satria, ada. Lelaki tiga ada. Tiga perempuan ada. Ah itu dia, ternyata ada satu lelaki tambahan. Lelaki nomor empat ini, badannya seramping Raka, lebih tinggi sedikit.

Yang berubah sebenarnya cuma dua, yakni jumlahnya yang tambah satu, dan, ini dia yang paling terasa, suasana mereka yang pekat. Ada awan gelap yang menggelayut di antara mereka, pusatnya di Raka. Entah awan jenis apa itu.

Seperti biasa, semua perempuan akan duduk di sofa, lelaki tiga ikut duduk. Tapi ah, kenapa Raka juga duduk? Baiklah kali ini aku tidak boleh memikirkan mereka sampai bengong. Karena Satria mulai menghampiriku bersama si lelaki empat.


“Mbak mbak,” suara Satria menyapaku yang kali ini kupaksakan tidak melamun.

“Silakan kakak. Mau nonton film apa?”

Satria bertanya pada lelaki di sebelahnya, “Film apa Dika?”

Oh namanya Dika.

Siapa dia ini? Baru kali ini kulihat dia.

"Sorcerer’s Apperentice, mbak” kata Dika.

“Baik kakak, tujuh tiket?” tanyaku memastikan asumsiku.

Dika menoleh sebentar dan berkata, “Oh, iya iya tujuh.” Tak lama Dika mengangguk.

Popcorn asinnya dua, mbak,” tambah Satria.

“Iya kakak, tunggu sebentar ya,” kataku.

Setelah mengonfirmasi jam dan nomor teaternya, Dika dapatkan tujuh lembar tiket itu. Satria yang membawa popcorn-nya. Mereka berbalik.

Ada apa di antara mereka?

Keduanya menuju kelima temannya, termasuk Raka, yang baru kali ini duduk di sofa. Aku perhatikan gerak-gerik mereka yang sudah begitu kuhapal. Namun kali ini ada yang berbeda: Raka tidak begitu ceria seperti yang sudah-sudah. Aku berandai-andai soal Raka, Satria dan lelaki baru bernama Dika.

Semoga tebakkanku salah. Kasihan Raka
. []

2 comments: