(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
I
Hati
“DORRR!!! HEH KAMU!”
Hai sayang
“Norak ah, kagak kaget gue. Udah kuliahnya? Tumben jam 3 udahan.”
Hai juga sahabat hati, sudah siapkah kita pergi?
“Udah, dosennya cepat. Hari ini ke rumah aja yuk. Nonton film”
Aku bolos, sayang. Tak sabar berduaan
“Tumben, lagi bokek ya?”
Wah senang sekali kamu mengajakku ke rumahmu
“Ih najis. Bukan apa-apa, kali-kali lah kamu main ke rumah kakak”
Bukan sayang, aku ingin hanya ada kita. Aku punya hadiah istimewa
“Boleh aja, temen-temen kakak pada di mana?”
Wah pasti asyik hanya dengan kamu. Benar-benar hanya kita kan?
“Ah dasar pikun! Kan cuma kita berdua”
Ah kamu ini menggodaku terus
“Aku bukan diculik kan?”
Culik aku culik aku culik aku
“Ih emang ada yang mau nyulik kamu? Dikasihkan juga gak laku”
Orang yang mau menculikmu harus langkahi mayatku
“Oh, ya udah deh. Berangkat sekarang? Mulai mendung nih”
Apapun untukmu, aku sudah tak sabar
II
Aku
Akhirnya kita sampai juga. Setelah dua puluh menit diguyur hujan, diguyur kebersamaan. Baju kita sudah tentu kuyup. Rasanya akan ada satu ember air hasil perasan baju kita.
Buru-burulah kita berdua turun dari motor dan melesak ke teras rumahmu. Aku ceroboh, aku terpeleset dan menjengkang di hadapan kamu yang baru merapikan motor. Lututku lecet kecil. Seumur hidupku aku jatuh, aku selalu sebal. Namun spesial hari ini, karenamu, aku suka. Maka aku tertawa. Kita tertawa.
Hujan masih deras. Rumah kamu kosong. Orangtuamu sedang ke Jakarta rupanya. Kamu langsung bersalin dengan baju biru tanpa lengan dan celana pendek hitam. Kamu bilang kamu memang begitu bila di rumah. Santai dan apa adanya.
Kamu lalu meminta aku untuk mengganti baju. Kamu menawariku memakai bajumu yang pasti kebesaran bila kupakai. Aku menolak tapi kamu bilang kamu khawatir aku sakit. Baiklah, benar juga, tak apa, lagi pula, aku tak mau sakit.
Maka inilah aku kemudian, berbalut kaus putih dan boxer biru muda, duduk di kasurmu. Kamu beranjak untuk mengepel lantai yang membasahi pintu masuk hingga tempat kita bersama. Baju basah kita kamu urus sudah di mesin cuci.
Kamu lantas bilang akan ke dapur menyeduh mie instan dan mengambil plester. Aku menghargai naluri babumu, kataku bercanda. Kamu balas tertawa dan melesat ke dapur begitu melihatku mulai kedinginan. Kamu kembali dengan kepedulian yang dirangkum dalam mangkuk itu. Kamu langsung membuka selimut tebal dan membungkusku dengan itu. Aku, yang sebelumnya begadang mengerjakan tugas lalu kehujanan, kini menggigil, berkeringat, menuju demam.
III
“Kak,” kata Raka parau.
“Kenapa heh?”
“Dada aku..”
“Hah, kenapa dada kamu? Kamu gak kena asma lagi kan?”
Satria langsung mendekat ke kasur.
“Bukan..”
“Kamu kenapa? Maaf kamu jadi kehujanan”
“Ini... da-da-ku..”
“Kenapa dada kamu!?”
“Ada....” jeda Raka.
Satria bingung.
“Di-da-da-ku.. ada... kumismu hahaha!” Raka cengengesan. Tertawa terpingkal-pingkal.
“Kampret, mau kakak bikin sakit dada asli!”
“Hahahaha!”
"Aku khawatir sama kamu"
IV
“Kampret, mau kakak bikin sakit dada asli!”
“Hahahaha!”
"Aku khawatir sama kamu"
IV
Bibir satu bergemeletuk. Bibir dua meminta maaf. Bibir satu bersin. Bibir dua bilang menyesal menembus hujan. Bibir satu bilang tak apa lalu bersin lagi. Bibir dua bilang sebentar ada obat. Bibir satu bilang tak usah repot-repot. Bibir dua bilang mau tanggung jawab. Bibir satu menolak. Tapi bibir dua langsung bergumam sambil membawa obat. Bibir satu bersin lagi. Bibir dua bilang cepat diminum obatnya. Bibir satu minta maaf karena rencana terganggu. Bibir dua bilang tak apa karena menonton film bisa dimulai setelah obat diminum. Bibir satu meneguk tablet penurun demam dan meminum segelas air putih. Bibir dua tersenyum. Bibir satu mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Bibir dua bilang tak perlu berterimakasih karena inilah tanggung jawab. Bibir satu tersenyum. Bibir dua bersin. Bibir satu dan dua tertawa terbahak. Bibir dua berhenti tertawa duluan. Bibir satu diam kemudian. Bibir dua menghela nafas. Bibir satu bergerak tertahan. Bibir satu dan dua lalu diam. Selepas lima detik, kedua bibir itu mendekat, bersentuhan.
V
Aku
Doraemon dan Legenda Raja Matahari sudah diputar di laptop. Kenapa jadi film ini yang kita pilih aku tak tahu. Menonton film itu jadi tidak penting karena kita berdua, saat ini, di kasur, sudah mengobrol keseharian kita lagi. Namun aku harus setuju, bahwa apa pun yang aku lakukan, kalau itu denganmu, semuanya terasa istimewa.
Selepas film, mie kuah, obrolan, dan energi habis, kamu duduk di kananku, aku terbaring di kirimu, kita diam berjuta bahasa. Hanya rinai hujan dan gigilku yang mengisi kekosongan ini.
“Maaf membawamu ke sini,” katamu perlahan sambil mendekatiku. Aku mengangguk. “Malam ini nginep di sini saja dulu,” ujarmu seraya mendekapku. Aku mengangguk pelan. “Semoga besok sembuh ya,” doamu lalu memelukku. Aku mengangguk sangat pelan. Aku sibuk merasakan saluran hangat tubuhmu yang begitu kentara. Ada yang menjalar di dada ini yang bagiku... Janggal. Rancu. Ambigu. Merasa ada yang salah. Tapi nikmat.
Saat ini aku bisa mendengar jantungmu, serta jantungku. Mereka berdetak ritmis, saling bersahutan. Adakah kamu merasakannya juga? Hangat tubuhmu membuatku, aku tak tahu apakah ini benar, betah.
Aku sadari bahwa yang membuatku membaik bukanlah rumah yang kokoh, bukan selimut yang tebal, bukan plester bagi luka lecet, bukan satu mangkuk mie instan, bukan segelas air putih, bukan pula obat demam. Nothing but you, dear.
“On this very fool moment. Is this, I ask you, something we call bromance?” tanyaku. Kamu tersenyum. Maka dalam bantal empuk bernama Satria yang aman sentausa ini aku terlelap. []
ih bahasanya...
ReplyDelete"Kamu langsung bersalin"
Emang mau lahiran???
emang mreka bneran ciuman???
salin punya arti berganti pakaian juga, saduran dari bhs sunda hahah :D
Deletemenurutmu gmn? itu cuma cerita bibir :D