(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
I
Kita
Bersamamu itu seperti teh. Seduhnya sebentar saja, karena lama-lama akan terlalu pahit pekat. Bersamamu itu seperti teh. Porsinya secangkir saja, karena banyak-banyak akan bosan. Bersamamu itu seperti teh. Meminumnya lebih baik apa adanya tanpa gula. Awalnya pahit memang, namun merangsang rasa manis alami keluar kemudian, sedang yang manis akan menyisakan rasa asam yang lama hilang.
Kamu tahu? Bersamamu itu seperti minum teh. Memberi semangat saat aku baru bangun, memberi ketenangan saat aku hendak tidur. Bersamamu itu seperti minum teh. Saat masih panas enaknya diminum sedikit-sedikit, pelan-pelan saja. Bersamamu itu seperti minum teh. Yang kulakukan saat sedang mencari solusi, atau mencari inspirasi.
Aku, teh dan kamu.
Sering kuberpikir teh jenis apakah kamu itu. Kunikmati teh madu yang legit dan memberi tenaga, teh melati yang menenangkan dan menginspirasi, teh hijau panas yang jujur berkata dan pekat apa adanya, teh lemon dingin, yang segar dan memberi kebebasan, lalu kuingat kamu.
Aku kesulitan mendefinisikan teh jenis apakah kamu itu. Kamu unik tak terbatas. Kuputuskan kamu adalah teh dengan jenis dirimu sendiri.
Teh yang paling kusuka, siapa lagi, yaitu kamu.
II
Kita
Lihatlah mereka, Facebook mereka, Twitter mereka, sms mereka, tiap pertemuan, obrolan dan apa pun yang mereka lakukan. Betapa mudahnya kalimat intim itu diumbar dan dipertukarkan.
Lihatlah kita, Facebook kita, Twitter kita, sms kita, tiap pertemuan, obrolan dan apa pun yang kita lakukan. Tak ada peresmian hubungan yang dilakukan, tak ada kata mesra yang perlu dikeluarkan, tapi kita sudah tahu apa yang terjadi antara kamu, aku dan perasaan. Cukuplah demikian.
III
Kita
Jadi mungkin ini dia,
saat definisi senang kita jadi begitu apa adanya
Jadi mungkin ini dia,
saat syarat tenang kita jadi hal yang sederhana
Jadi mungkin ini dia,
saat bahagia kita dirangkum hanya dalam orang biasa
Mungkinkah ini cinta,
dan pasti itu kamu.
IV
Kita
Kadang kita memang tak perlu mengerti kenapa semua terjadi. Tak ada yang salah di sini. Mengapa semua seperti ini, cukuplah bertanya dalam hati. Tak perlu jawaban pasti. Cukup hanya kita yang pahami.
Yang kita butuhkan hanyalah ini : Dimengerti. Oleh mereka yang mengaku geli. Oleh mereka yang mengaku tahu kisah sejati. Oleh mereka yang tak mau memahami. Oleh mereka yang mahir menghakimi.
Namun bagaimana pun mereka takkan mengerti. Andai saja mereka rasakan sendiri. Bagaimana disiksa situasi. Bagaimana dipaksa kondisi. Apa itu mengetahui, apa itu mengalami, dan berakhir seperti kita ini. Adakah mereka masih berani seperti tadi?
Maka baiknya biarkan saja kami sendiri. Tinggalkan di sini. Saat ini. Kami takkan lagi peduli. Kami hanya ingin menikmati. Kami hanya ingin begini. Saling berbagi, saling mengasihi, meski kami sesama lelaki. []
Kita
Kadang kita memang tak perlu mengerti kenapa semua terjadi. Tak ada yang salah di sini. Mengapa semua seperti ini, cukuplah bertanya dalam hati. Tak perlu jawaban pasti. Cukup hanya kita yang pahami.
Yang kita butuhkan hanyalah ini : Dimengerti. Oleh mereka yang mengaku geli. Oleh mereka yang mengaku tahu kisah sejati. Oleh mereka yang tak mau memahami. Oleh mereka yang mahir menghakimi.
Namun bagaimana pun mereka takkan mengerti. Andai saja mereka rasakan sendiri. Bagaimana disiksa situasi. Bagaimana dipaksa kondisi. Apa itu mengetahui, apa itu mengalami, dan berakhir seperti kita ini. Adakah mereka masih berani seperti tadi?
Maka baiknya biarkan saja kami sendiri. Tinggalkan di sini. Saat ini. Kami takkan lagi peduli. Kami hanya ingin menikmati. Kami hanya ingin begini. Saling berbagi, saling mengasihi, meski kami sesama lelaki. []

masalahnya aq ni cwek, jd sulit memahami cinta sesama lelaki hihi #ngarang
ReplyDeletetak apa, mereka hanya tak mau diganggu hahaha :D
DeleteSaling mengasihi,
ReplyDeletewalaupun dengan akhir yang tak pasti
cukup mereka yang pahami :)
Deleteterimakasih telah berkunjung kemari :)
Ahhh menstimulus imajinasi YO!ahahaha XD
ReplyDeleteahahahaha :p
Delete