(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
Seharusnya/ Tak kuisi hatiku/
Dengan cinta untuk dirimu yang kini menghancurkan hidupku//
---Seharusnya, Last Child
Pukul 17.09
Dengan langkah yang digusur, dirinya keluar kamar mandi. Bibirnya memutih, jari-jarinya membiru. Matanya memerah, tak jelas karena tangis atau iritasi. Hanya berhanduk, dirinya lekas menuju dapur untuk menyeduh kopi, atau teh, atau susu atau apa pun.
Mata dirinya menjelajahi tiap sachet minuman yang tersedia di laci. Kopi, teh, susu. Kopi cappuccino, mochaccino, kopi hitam, kopi susu, kopi karamel, teh hitam, teh hijau, teh lemon, susu fullcream atau susu kental manis. Urusan yang sepele. Tapi bagi dirinya yang sedang sendu, pemilihan ini jadi begitu penting.
Atas pertimbangan yang entah apa, dirinya memilih kopi hitam tanpa gula. Dirinya ambil dua sendok makan kopi dan menyeduhnya setengah becus pada cangkir besar. Aroma kopi pekat langsung mengepul dari kopi hitam tak keruan. Merasa jadi bartender, dirinya tambahkan pada cangkir tadi susu kental manis, lalu gula dua sendok, lalu krimer satu sendok dan kayu manis sebatang. Dirinya uyup racikan itu. Rasa kopi hanya tersamar. Didominasi rasa gula yang ditambah kopi atau krimer dicampur gula. Dirinya mungkin tergila-gila dengan kopi, atau memang gila saja, dirinya tak peduli.
Dirinya menarik nafas dalam-dalam. Nafas yang dipelankan. Dirinya tersenyum simpul. Senyum yang dipalsukan. Rupanya untuk menaikkan pipi satu senti pun masih sulit. Tak apa, dirinya tak mau pura-pura jadi pecundang bahagia. Dirinya cukup menerima bahwa hidupnya memang hancur, dan sudah.
Dirinya sedang berselera untuk sendu dalam situasi. Maka dirinya menenteng kopi tadi ke teras depan. Dirinya menemukan bahwa ini sudah petang dan hujan kembali mampir dalam jumlah yang lebih kecil. Dirinya lantas memilih-milih antara empat kursi yang akan diduduki dengan semacam simsalabim masa kanak-kanak. Ketika telunjuknya berakhir di kursi kedua, dia duduk di kursi pertama. Aneh, memang, tak perlu dipertanyakan lagi.
Kalaulah pantat yang bersanding asal dengan kursi bisa dibilang posisi duduk, maka itulah dirinya. Duduk alakadarnya, tak acuh, sempoyongan. Dirinya lalu menarik buang nafas secara kasar. Mencari tenang yang dipaksakan. Kondisi mental artifisial.
Selepas teguk pertama, dirinya menghela nafas. Dirinya bersyukur bisa menyampah waktu seperti hari ini. Inilah hidup apa adanya. Saat dunia dirinya hanya soal tiga lokasi saja : kamar, dapur dan toilet. Hanya tunduk pada mekanisme hidup. Hanya tunduk pada hukum-hukum biologi. Namun ternyata, sialnya, manusia memiliki hidup yang lebih rumit dari itu. Ini semua, sebagaimana orang-orang menyebutnya untuk memuji atau menghina, adalah karena cinta. Cinta memang kompleks karena kesederhanaannya. Gagasan yang patut dipertanyakan.
Usai teguk kedua kopinya, dirinya memulai acara itu. Berkabung pribadi. Begitulah dirinya menamakan kegiatan duduk di kursi teras sambil ditemani kopi saat petang. Saat dirinya hanya duduk diam tak melakukan apa-apa. Kaki seperti dipaku, bibir seperti dilem. Seperti ada es batu imajiner yang membuat waktu diam sejenak. Kopi dibiarkan terlantar. Baru hari ini dirinya lakukan lagi setelah sebulan absen.
Sudah tiga puluh menit ini dirinya duduk menyendiri. Ditemani sunyi. Diiringi sepi. Membisu yang disengajakan. Menghening yang diciptakan. Mensyahdu yang diada-adakan. Dan dia sanggup menghabiskan dua jam lagi hanya untuk mengenang. Namun bila dirinya ditanya apakah sedang nostalgik, dirinya akan bungkam. Dirinya masih bingung apakah ini, kadang dia memilih mengkategorikannya sebagai jejak kesalahan saja.
Gejolak itu tumpah ruah. Dirinya menangis dua kali. Satu tangis buat mengenang orang yang sedang dipikirkan. Satu lagi, baru kali ini dirinya lakukan, tangis untuk dirinya sendiri. Dirinya menangis kenapa bisa dirinya, secara konyol, terpaut pada seorang lelaki. Seiring dengan keringnya air mata, dirinya kembali menarik buang nafas. Lanjut lagi belajar menikmati kesendirian.
Satu jam sudah dirinya menikmati rindu. Saban petang dirinya berkawan dengan ingatan yang datang dan membunuh. Maka baginya kali ini sudah cukup. Lagi pula sebentar lagi nyamuk akan datang dan mengganggu. Maka dirinya mendongak asal. Terlihatlah mata dirinya yang bersaput air. Dirinya lalu menghabiskan ramuan kopinya yang telah dingin dalam sepuluh tegukan.
Tiga detik lagi, satu frasa klise akan terlontar dari bibir dirinya : “Kangen.”

itu pilihan minumannya g ada yg jahe ya? #gubrak
ReplyDeletekangeennnn
ReplyDelete