(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
I
September
Satu tahun sejak aku dan kamu bertemu SATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA TAMAN ATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIAS CAFE SATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA KAMPUS TRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA MALL SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASAT bayanganmu RIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASAT mengepungku RIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA KELAS SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA TOKO BUKU ASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA RUMAH ATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA JALAN SATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA DI MANA-MANA []
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA TAMAN ATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIAS CAFE SATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA KAMPUS TRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA MALL SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASAT bayanganmu RIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASAT mengepungku RIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA KELAS SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA TOKO BUKU ASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIA RUMAH ATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA JALAN SATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIASATRIA
SATRIASATRIASATRIASATRIA DI MANA-MANA []
II
Aku
Oktober
Pagi. Teh. Jendela. Pohon. Embun. Kucing. Matahari. Angin. Tiket. Kenangan. Aku. Kamu. Air mata. Pagi. Teh. Jendela. Pohon. Embun. Kucing. Matahari. Angin. Tiket. Kenangan. Aku. Kamu. Air mata. Pagi. Teh. Jendela. Pohon. Embun. Kucing. Matahari. Angin. Tiket. Kenangan. Aku. Kamu. Air mata. Air mata. Air mata.
Berapa air mata yang perlu kita seka, sebelum kita akhirnya jujur, soal pada siapa kita tempatkan perasaan kita, sehingga kita tak lagi merasa sepi?
Aku, padamu, dulu, percaya.
Kini percaya yang aku sematkan padamu berubah jadi tanya. Juni lalu aku masih mengenalmu intim, namun kini, kamu siapa? Aku bahkan tak kenal kamu samasekali. Kamu masih berpakaian seperti itu, beserta teman yang itu, namun kamu, telah asing.
Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Baju birumu, senyum anehmu, matamu, lenganmu, pertanyaanmu, salammu. Aku lestarikan di dalam otakku, setiap suaramu, rangkulmu, sentuhmu, ciummu, ekspresi wajahmu, senyummu, candaanmu. Aku masih menyimpan tiket-tiket nonton, bon-bon makan juga minum, struk pembelian buku, bukti parkir, semuanya. Otakku menyimpan semua soal aku, kamu dan satu tahun ini. Album dokumentasi yang begitu konyol dan menyiksa.
Hari-hari pada nyatanya tetap berubah dan bergerak, namun musim kita tetap saja ada, di sini, di sana, di semua tempat yang pernah kita kunjungi dulu. Angin yang semakin dingin, yang membawa bau nostalgik di langit. Aku di sini, di tempat biasa aku melihatmu, masih memikirkanmu. Dan kini aku mendengar suaramu.
Kenapa, aku tanya sekali lagi, kenapa kamu membawaku sejauh ini? Kamu tak bilang apa-apa. Kamu membawaku terlalu jauh ke dalam. Lalu langsung pergi begitu saja, meninggalkanku bersama bayanganmu.
Jadi mungkin itu benar, aku tak bisa hidup tanpamu.
Lihatlah diriku. Berantakan. Berserakan. Tak terdeskripsikan.
Aku sangat lemah ya?
Berapa air mata yang perlu kita seka, sebelum kita akhirnya jujur, soal pada siapa kita tempatkan perasaan kita, sehingga kita tak lagi merasa sepi?
Aku, padamu, dulu, percaya.
Kini percaya yang aku sematkan padamu berubah jadi tanya. Juni lalu aku masih mengenalmu intim, namun kini, kamu siapa? Aku bahkan tak kenal kamu samasekali. Kamu masih berpakaian seperti itu, beserta teman yang itu, namun kamu, telah asing.
Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Baju birumu, senyum anehmu, matamu, lenganmu, pertanyaanmu, salammu. Aku lestarikan di dalam otakku, setiap suaramu, rangkulmu, sentuhmu, ciummu, ekspresi wajahmu, senyummu, candaanmu. Aku masih menyimpan tiket-tiket nonton, bon-bon makan juga minum, struk pembelian buku, bukti parkir, semuanya. Otakku menyimpan semua soal aku, kamu dan satu tahun ini. Album dokumentasi yang begitu konyol dan menyiksa.
Hari-hari pada nyatanya tetap berubah dan bergerak, namun musim kita tetap saja ada, di sini, di sana, di semua tempat yang pernah kita kunjungi dulu. Angin yang semakin dingin, yang membawa bau nostalgik di langit. Aku di sini, di tempat biasa aku melihatmu, masih memikirkanmu. Dan kini aku mendengar suaramu.
Kenapa, aku tanya sekali lagi, kenapa kamu membawaku sejauh ini? Kamu tak bilang apa-apa. Kamu membawaku terlalu jauh ke dalam. Lalu langsung pergi begitu saja, meninggalkanku bersama bayanganmu.
Jadi mungkin itu benar, aku tak bisa hidup tanpamu.
Lihatlah diriku. Berantakan. Berserakan. Tak terdeskripsikan.
Aku sangat lemah ya?
III
November
Aku menangis dua kali. Satu tangis buat mengenang kamu yang sedang dipikirkan. Satu lagi tangis untuk aku sendiri. Aku menangis kenapa bisa aku, secara konyol, terpaut pada seorang lelaki.
Aku menyesal dua kali. Satu sesal kenapa telat bilang suka. Satu lagi sesal kenapa harus kamu. Aku rindu dua kali. Satu rindu pada kamu. Satu rindu diri aku yang dulu.
IV
Desember
“Raka, kamu punya ide buat makalah kelompok kita?
“...”
“Dari tadi kamu dengerin kita kita gak sih?”
“......”
“Kamu kok jadi pendiam?
“...................”
“Dua bulan ini kamu jadi suka bengong.”
“...................................................”
“Suka marah-ma....”
“DIAM KAMU! AKU MUAK!”
BRAKKK!
“Eh Raka mau ke mana?!”
Raka berlari.
“Dua bulan ini kamu jadi suka bengong.”
“...................................................”
“Suka marah-ma....”
“DIAM KAMU! AKU MUAK!”
BRAKKK!
“Eh Raka mau ke mana?!”
Raka berlari.
Kalau pun Raka jadi gemar berteriak begini, sebenarnya Raka tak niat memarahi. Kalau pun Raka jadi kasar begini, hati kecil Raka ingin ditemui. Raka hanya ingin diakui. Raka ingin didatangi, oleh orang yang ingin peduli, berusaha memahami. Namun Raka memang tak bisa bercerita pada siapa-siapa lagi. Pikirannya cukup dikunci dalam hati. Maka Raka hanya bisa marah pada diri sendiri. Melaknat hidup dalam sepi. Lagi pula siapa yang mau menerima cerita bahwa seorang Raka patah hati, karena seorang lelaki?[]

tenang Raka,,toh sampai saat ini aq msh baca ne cerita :D
ReplyDeleteterimakasih telah menyetia mengikuti ini sejak awal :)
Deleteoooo gitu ya klo patah hati
ReplyDeletehahaha terimakasih telah berkunjung :)
Deletemy fave is ..
ReplyDelete'Aku menyesal dua kali. Satu sesal kenapa telat bilang suka. Satu lagi sesal kenapa harus kamu. Aku rindu dua kali. Satu rindu pada kamu. Satu rindu diri aku yang dulu. '
T_T it's touched...
huaaaa makasih chia udah dateng :)
Delete