(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
I
Aku
Tik.
Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok.
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
I
Aku
Tik.
Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Sudah 15.768.000 detik sekian sejak kita tak lagi bertemu.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tahukah kamu bahwa setiap kita bertemu
aku menabung rindu?
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Rindu yang kini nampak semu.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Aku sadar sebenarnya bukan merindu.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Aku hanya menunggu.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Menunggu apakah itu aku tidak tahu.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Namun waktu hanya berlalu.
Tak pernah mendukungku.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Maka haruskah aku menyalahkan waktu..
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Tik. Tok. Tik. Tok.
... yang tak bisa mengembalikan padaku ..
Tik. Tok.
Tik. Tok.
Tik. Tok.
Kamu.
Tik. Tok.
Tik. Tok.
Tik.
II
UNTUK KALI PERTAMA RAKA MUAK// RAKA INGIN LARI DARI BAYANG ITU// MAKA RAKA MENUJU CIHAMPELAS WALK/ BERHARAP MENEMUKAN SATU HAL BARU//
RAKA SAMPAI SETELAH KEHUJANAN/ SENGAJA BERHUJAN// BERJALAN SAMBIL BERPAYUNG MEMORI/ BERMANTEL NOSTALGI/ BERSYAL ELEGI// SENGAJA DATANG SEORANG DIRI// BELAGAK ASYIK SENDIRI//
RAKA BERPUTAR-PUTAR SENDIRI/ MELEWATI KARAOKE/ BIOSKOP/ TEMPAT MAKAN/ MINUM/ CAFE/ TOILET// TANPA SADAR RAKA MENELUSURI TEMPAT DAN KENANGAN YANG DULU KERAP DIKUNJUNGI// RAKA PAHAMI/ ADA MEMORI DI BALIK INI// DAN INI BUKAN IDE YANG BAIK UNTUK DILALUI SEORANG DIRI//
RAKA MENUJU STARBUCKS/ DUDUK DI SUDUT KIRI// PERLAHAN MALAH TERASA MENYIKSA DIRI// PASANGAN MUDA MUDI DI SANA SINI// PEREMPUAN DAN LELAKI// ADA APA INI? RUPANYA PARADE KASIH SAYANG SEDANG DIGELAR// KARNAVAL KEMESRAAN DIBERLAKUKAN// MEMUAKKAN//
ADA YANG MENEMUKAN KEWARASAN RAKA? TOLONG CARIKAN//
III
Aku
Secangkir kopi tersuguh di hadapanku.
Sungguh. Sore ini terasa begitu lambat, nyaris tak bergerak. Seolah jam di ponselku tidak berjalan, tapi tidak, memang perasaanku yang sedang lunglai.
Sekarang aku sudah belajar menyukai diri sendiri, berdamai dengan sepi, dengan sunyi, dengan sendiri. Kini aku lebih nyaman bersama khayalanku, imajinasiku dan pikiranku saja. Keadaan kini sungguh berbeda.
Sepertinya sore ini matahari sedang malas tampil. Kompak sekali dengan hatiku yang sedang buram. Begitu buramnya hingga kerjanya hanya mengigau, meracau. Galau hingga kacau.
Tak seperti biasanya, teh, kopi atau cokelat kini tak bisa membuatku tenang. Entah sudah berapa gelas kopi yang kubeli di sini, di cafe yang biasanya kita kunjungi tiap minggu, seorang diri, namun hatiku masih juga belum gentar.
Kukocek kopi ini. Lalu sempatkan menarik nafas dalam-dalam. Seolah menelusuri aroma kopi tadi. Berharap ini membuatku lebih baik. Gagal.
Aku merasa kehilangan dirimu. Betapa kehilangannya. Tapi aku tidak tahu kehilangan apa. Aku bahkan tak tahu menganggapmu sebagai apa. Sulit memang. Aku ingin menganggapmu hanya sebagai kakak, tapi perasaanku berkata lain. Karena rangkulanmu, peganganmu yang erat, pelukmu, membuatku berpikir bahwa kamu bukanlah seorang kakak, tapi, ah sudahlah.
Kuhabiskan kopi itu dalam delapan teguk sekaligus.
Kamu tidak keliru. Mungkin aku yang bodoh. Ingin melupakanmu tapi datang ke tempat yang sering kita datangi.
Memang aku yang bohong. Aku bilang ingin melupakanmu tapi sebenarnya tidak. Makanya aku datang ke tempat ini, duduk tepat di sudut favorit kita, di satu Selasa sore yang hujan, memesan kopi yang entah sudah berapa gelas. Serbasama, aku usahakan demikian.
Meski hatiku seperti dirobek, di sisi lain, aku senang juga sendiri di sini. Tak ada yang perlu menemani, sehingga aku bebas berdua dengan pikiranku saja. Membenamkan diri pada nuansa saat kita masih bersama.
Sementara tempat ini hiruk pikuk sibuk, aku takkan berbuat apa-apa. Aku cukup duduk, kembali memutar daftar lagu yang akan membuatku sendu, sesekali tersenyum pilu. Mereka-reka tiap sudut yang takkan ada habisnya. Maka aku merasakan di kananku, kehadiranmu.
Tak pernah aku bosan mengenangmu. Malah makin ahli. Seperti saat kamu duduk tepat di kananku, memesan kopi andalanmu, tidak menghiraukan kopi itu hingga dingin baru kamu habiskan, sementara kamu bercengkerama dengan keempat temanmu, dan aku senang hanya dengan memerhatikanmu saja. Selalu seperti itu.
Aku memanggil pramusaji lagi.
Aku kehilangan kamu yang, tanpa berlebihan, mampu membuatku tenang kapan pun aku perlu. Bahu yang rela ditumpangi air mataku, lengan yang siaga menepukku, telinga yang rela dikepung keluh kesahku. Kini pergi entah kemana. Lantas ke manakah aku harus pulangkan rinduku?
Aku kembali memesan kopi. Kali ini aku pesan kesukaanmu.
Aku terlalu kenal dirimu. Aku kenal betul temperatur tubuhmu, tekstur kulitmu, aroma tengkukmu, kilat matamu, air mukamu, rona pipimu, derajat miring senyummu, presisi posisi dudukmu, dimensi punggungmu, tekanan rangkulanmu, nada nafasmu, volume suaramu, pola intonasimu, semua kamu.
Saat dirimu, maksudku kopi kesukaanmu, datang, aku minta gula lima bungkus lagi. Kumasukkan semuanya. Kukocek, kuhirup perlahan. Aku teguk sebentar dan lekas memanggil pramusaji lagi. Aku minta sepuluh bungkus gula lagi, manisnya masih kurang.
Bagiku, kopi ini akan terasa begitu pahit. Kenangan atasmu yang tertempel dalam kopi tanpa dosa ini, mengalahkan manisnya lima belas bungkus gula.
Pahit.
Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Kamu. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Bukannya aku tak ingin lupakan dirimu.
Aku hanya tak tau caranya bagaimana.
IV
Aku
Ada banyak gagasan fantastis di dunia. Sosialisme, pasar bebas, kesetaraan ras, perdamaian global, pluralisme, spiritualitas, hingga reinkarnasi. Namun di antara itu semua, cinta adalah juaranya konsep yang paling sulit dijelaskan. Cinta adalah paradoks.
[Menyudahi acara di Starbucks]
Kata orang cinta membuat manusia bebas. Aku tidak setuju. Cinta malah membuat aku terjerat, berusaha menjadi diri orang lain agar dapat dicintai.
[Berjalan menuju Skywalk]
Tahukah dirimu bahwa, aku masih cinta?
[Berdiam di Skywalk]
Namun manusia takkan pernah tahu bagaimana hidupnya berjalan. Manusia takkan tahu kapan akan mengalami apa, bertemu siapa, di mana, dengan cara apa dan kenapa. Kenapa juga hidup ini berkonspirasi mempertemukan kita? Aku tak akan bisa, tak akan pernah bisa tahu.
[Memandang langit malam dan lalu lalang orang]
Saat jalan dari dua manusia sengaja dipautkan. Kadang manusia menyebutnya kebetulan. Sebenarnya itu bukan tanpa alasan. Pasti ada satu ide yang semesta jalankan. Hanya saja manusia terlalu malas untuk mengatakan.
[Menoleh ke kanan]
Astaga! Ternyata pertautan memang misteri. Hanya bisa diprediksi tanpa diketahui pasti. Seperti ini. Di antara 365 hari di kalender masehi, 510.072.000 kilometer persegi luas bumi, juga di antara tujuh milyar manusia di bumi, kenapakah....
[Bertemu mata dengan sosok yang begitu dihapal]
Kenapakah, kenapakah di antara 1.303.233.960.000.000.000.000 probabilitas yang bisa saja terjadi, dengan tingkat kemungkinan yang sangat acak begini, kenapa harus terpilih insiden kecil ini bahwa dalam kondisi begini, situasi yang seperti ini, saat ini, di sini, saat sudah mahir menangani diri sendiri, aku harus...
... harus bertemu dengan kamu kembali?
[Tak berkutik]
Ini mungkin anugerah atau musibah dari semesta. Yang penting, bagiku, pertautan ini tetap begitu menakjubkan. []
RAKA MENUJU STARBUCKS/ DUDUK DI SUDUT KIRI// PERLAHAN MALAH TERASA MENYIKSA DIRI// PASANGAN MUDA MUDI DI SANA SINI// PEREMPUAN DAN LELAKI// ADA APA INI? RUPANYA PARADE KASIH SAYANG SEDANG DIGELAR// KARNAVAL KEMESRAAN DIBERLAKUKAN// MEMUAKKAN//
ADA YANG MENEMUKAN KEWARASAN RAKA? TOLONG CARIKAN//
III
Aku
Secangkir kopi tersuguh di hadapanku.
Sungguh. Sore ini terasa begitu lambat, nyaris tak bergerak. Seolah jam di ponselku tidak berjalan, tapi tidak, memang perasaanku yang sedang lunglai.
Sekarang aku sudah belajar menyukai diri sendiri, berdamai dengan sepi, dengan sunyi, dengan sendiri. Kini aku lebih nyaman bersama khayalanku, imajinasiku dan pikiranku saja. Keadaan kini sungguh berbeda.
Sepertinya sore ini matahari sedang malas tampil. Kompak sekali dengan hatiku yang sedang buram. Begitu buramnya hingga kerjanya hanya mengigau, meracau. Galau hingga kacau.
Tak seperti biasanya, teh, kopi atau cokelat kini tak bisa membuatku tenang. Entah sudah berapa gelas kopi yang kubeli di sini, di cafe yang biasanya kita kunjungi tiap minggu, seorang diri, namun hatiku masih juga belum gentar.
Kukocek kopi ini. Lalu sempatkan menarik nafas dalam-dalam. Seolah menelusuri aroma kopi tadi. Berharap ini membuatku lebih baik. Gagal.
Aku merasa kehilangan dirimu. Betapa kehilangannya. Tapi aku tidak tahu kehilangan apa. Aku bahkan tak tahu menganggapmu sebagai apa. Sulit memang. Aku ingin menganggapmu hanya sebagai kakak, tapi perasaanku berkata lain. Karena rangkulanmu, peganganmu yang erat, pelukmu, membuatku berpikir bahwa kamu bukanlah seorang kakak, tapi, ah sudahlah.
Kuhabiskan kopi itu dalam delapan teguk sekaligus.
Kamu tidak keliru. Mungkin aku yang bodoh. Ingin melupakanmu tapi datang ke tempat yang sering kita datangi.
Memang aku yang bohong. Aku bilang ingin melupakanmu tapi sebenarnya tidak. Makanya aku datang ke tempat ini, duduk tepat di sudut favorit kita, di satu Selasa sore yang hujan, memesan kopi yang entah sudah berapa gelas. Serbasama, aku usahakan demikian.
Meski hatiku seperti dirobek, di sisi lain, aku senang juga sendiri di sini. Tak ada yang perlu menemani, sehingga aku bebas berdua dengan pikiranku saja. Membenamkan diri pada nuansa saat kita masih bersama.
Sementara tempat ini hiruk pikuk sibuk, aku takkan berbuat apa-apa. Aku cukup duduk, kembali memutar daftar lagu yang akan membuatku sendu, sesekali tersenyum pilu. Mereka-reka tiap sudut yang takkan ada habisnya. Maka aku merasakan di kananku, kehadiranmu.
Tak pernah aku bosan mengenangmu. Malah makin ahli. Seperti saat kamu duduk tepat di kananku, memesan kopi andalanmu, tidak menghiraukan kopi itu hingga dingin baru kamu habiskan, sementara kamu bercengkerama dengan keempat temanmu, dan aku senang hanya dengan memerhatikanmu saja. Selalu seperti itu.
Aku memanggil pramusaji lagi.
Aku kehilangan kamu yang, tanpa berlebihan, mampu membuatku tenang kapan pun aku perlu. Bahu yang rela ditumpangi air mataku, lengan yang siaga menepukku, telinga yang rela dikepung keluh kesahku. Kini pergi entah kemana. Lantas ke manakah aku harus pulangkan rinduku?
Aku kembali memesan kopi. Kali ini aku pesan kesukaanmu.
Aku terlalu kenal dirimu. Aku kenal betul temperatur tubuhmu, tekstur kulitmu, aroma tengkukmu, kilat matamu, air mukamu, rona pipimu, derajat miring senyummu, presisi posisi dudukmu, dimensi punggungmu, tekanan rangkulanmu, nada nafasmu, volume suaramu, pola intonasimu, semua kamu.
Saat dirimu, maksudku kopi kesukaanmu, datang, aku minta gula lima bungkus lagi. Kumasukkan semuanya. Kukocek, kuhirup perlahan. Aku teguk sebentar dan lekas memanggil pramusaji lagi. Aku minta sepuluh bungkus gula lagi, manisnya masih kurang.
Bagiku, kopi ini akan terasa begitu pahit. Kenangan atasmu yang tertempel dalam kopi tanpa dosa ini, mengalahkan manisnya lima belas bungkus gula.
Pahit.
Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Kamu. Pahit. Pahit.
Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit. Pahit.
Bukannya aku tak ingin lupakan dirimu.
Aku hanya tak tau caranya bagaimana.
IV
Aku
Ada banyak gagasan fantastis di dunia. Sosialisme, pasar bebas, kesetaraan ras, perdamaian global, pluralisme, spiritualitas, hingga reinkarnasi. Namun di antara itu semua, cinta adalah juaranya konsep yang paling sulit dijelaskan. Cinta adalah paradoks.
[Menyudahi acara di Starbucks]
Kata orang cinta membuat manusia bebas. Aku tidak setuju. Cinta malah membuat aku terjerat, berusaha menjadi diri orang lain agar dapat dicintai.
[Berjalan menuju Skywalk]
Tahukah dirimu bahwa, aku masih cinta?
[Berdiam di Skywalk]
Namun manusia takkan pernah tahu bagaimana hidupnya berjalan. Manusia takkan tahu kapan akan mengalami apa, bertemu siapa, di mana, dengan cara apa dan kenapa. Kenapa juga hidup ini berkonspirasi mempertemukan kita? Aku tak akan bisa, tak akan pernah bisa tahu.
[Memandang langit malam dan lalu lalang orang]
Saat jalan dari dua manusia sengaja dipautkan. Kadang manusia menyebutnya kebetulan. Sebenarnya itu bukan tanpa alasan. Pasti ada satu ide yang semesta jalankan. Hanya saja manusia terlalu malas untuk mengatakan.
[Menoleh ke kanan]
Astaga! Ternyata pertautan memang misteri. Hanya bisa diprediksi tanpa diketahui pasti. Seperti ini. Di antara 365 hari di kalender masehi, 510.072.000 kilometer persegi luas bumi, juga di antara tujuh milyar manusia di bumi, kenapakah....
[Bertemu mata dengan sosok yang begitu dihapal]
Kenapakah, kenapakah di antara 1.303.233.960.000.000.000.000 probabilitas yang bisa saja terjadi, dengan tingkat kemungkinan yang sangat acak begini, kenapa harus terpilih insiden kecil ini bahwa dalam kondisi begini, situasi yang seperti ini, saat ini, di sini, saat sudah mahir menangani diri sendiri, aku harus...
... harus bertemu dengan kamu kembali?
[Tak berkutik]
Ini mungkin anugerah atau musibah dari semesta. Yang penting, bagiku, pertautan ini tetap begitu menakjubkan. []

eh, detiknya bneran sgtu? g salah itung? :p
ReplyDeleteitu jumlah detik dalam enam bulan hahaha :p
Delete