(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
Saya
“Yeah, to SEX with me! Was that your goal of our relationship!?” Katamu dengan nada menuduh. “If it was that simple, why didn’t you just kidnap me, drugs me, and rape me on the very first day we meet!? So I can hate you at once, not like this. Please!”
“NO! It’s a big no!” pekik dia akhirnya bicara.
Kalian mulai saling ralat bertubi-tubi. Kalimat tanda seru yang memekakan telinga juga hati. Lengkap dengan gestur tunjuk muka yang berlimpah sana-sini. Pada orang-orang di sekeliling, kalian sudah tak peduli.
“You trapped me! I should know it when you asked me to go to your house!”
“NO!”
“Yes you trapped me! How dare you rape me!” katamu terpotong-potong tangis.
“NO it was not my plan!”
“What a whole-planned cheap drama!”
“It was my first!”
“You lie! How could you that expert?”
“I only sleep with the boy I love, and it’s you!”
“NO WA---!” Kecup. Sambaran bibirnya di bibirmu memotong kalimatmu.
Hambar.
Kamu malah merasa dikhianati maka kamu hentakkan badannya. Kamu hentakkan pelan, karena bagaimana pun badan itulah yang dulu memeluk bahumu erat.
“I ...” bisiknya sambil buang muka. “ I know that I cannot be forgiven, but, I’m sorry, Raka.” Dia diam. “Sorry for.. maybe everything..” Air mata turun dari mata kanannya. “Sorry,” ujarnya lalu menunduk. “Very sorry.”
“That’s not an answer,” ucapmu menyambut minta maafnya. Kamu sudah hapal benar istilah itu. To forgive, but not to forget. Untuk dimaafkan, tidak bisa dilupakan. Kemudian kamu susut bibirmu. Cium yang dulu kamu impikan, kini tak lagi sudi bahkan untuk dibayangkan.
Maka masuklah keheningan itu. Saat satu detik rasanya milyaran tahun. Saat sekejap jadi begitu berat dan mata kalian jadi begitu detail menangkap semua. Bintang-bintang di langit, sepasang orang bertopi santa di sudut kanan, pramusaji, mie goreng, gitar, pohon natal, hiasan bola kristal, hiasan malaikat, lampu-lampu, tangkai, daun, semut. Seolah semuanya berhenti ikut penasaran pada apa yang hendak dia katakan.
“So what do you want from me? I break with Andika and be your boyfriend, is that what you want!?” Bentaknya defensif.
Perbincangan naik oktaf lagi, suhunya nyaris mendidih. Tak ada eufemisme yang dilakukan, semua kata adalah maksud langsung.
“Why did you take me this far!? I asked you.” kamu menjawab dengan pertanyaan menyudutkan. Kamu merasa indesisif. “Half year of togetherness is too deep, you know it!”
Tanda seru yang kalian pakai di akhir kalimat amat merusak suasana. Kalimat-kalimat yang, tidak hanya mengandung, tapi juga mengundang benci. Makin pekatlah atmosfer gelap yang membuat kalian makin enggan bicara.
Lalu kalimat itu drastis berubah jadi amat intens dan tanpa ampun. Kalian saling pamer ngotot. Muka saling garang, berhadapan dalam satu jengkal kurang. Pertarungan ego. Emosi sudah di titik didih.
Kedua tangan dia seketika memegang pundakmu. “RAKA! LOOK AT ME!”
“That’s why I don’t trust you!” timpalmu hampir berbarengan. “Look at me! You have destroyed me! I am pieces... I am... I-am-UNDESCRIBABLE!!”
“Do you really think THIS is what I want!?” Tunjuk dia pada jarak di antara kalian.
“I AM NORMAL!”
“Nobody wants love like this!!”
“GIVE ME BACK MY NORMAL LIFE!”
“Boys love is SUCKS!!!”
“I! HATE! YOU!”
“HATE ME!!!!”
BLAK! Bogemmu, ditenagai benci, mendarat di pipinya.
Detik. Air mata. Detik. Air mata.
Kalian biarkan keheningan kembali merajalela.
Pipi kanannya yang memerah merubah semuanya. Merubah alasan cinta dan tulus yang dulu sering diatasnamakan. Kini alasan itu jadi perhitungan untung rugi perasaan, soal siapa yang berhutang pada siapa, soal siapa mentraktir siapa, soal siapa yang salah, soal siapa yang memulai, semuanya jadi serba hitungan, kalian jadi pedagang.
Kalian masih punya banyak pertanyaan untuk dikemukakan, tapi sudah tak berselera untuk membahasnya.
Kosakata kalian sudah seluruhnya beranjak. Yang ada hanya komunikasi lewat isyarat. Melalui mata yang enggan bertemu, melalui air mata, melalui bungkam. Tanpa perlu berbahasa lagi, kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“We should have not known each other, shouldn’t we?” Katamu dengan nada yang ditegar-tegarkan. “Your life, and mine, will be much easier. Certainly.” Kamu menyusut air mata.
Badan kalian masih di situ, tapi hati kalian sudah pergi bahkan sebelum percakapan ini dimulai. Maka badan kalian ingin menjemput hati masing-masing, hati yang sudah ada di dua tempat berbeda. Hati kalian berkata, mungkin inilah saatnya.
Dia menatapmu lekat.
Orang-orang makin ramai. Karena itu kalian berniat sudahi percakapan tak jelas juntrungnya ini. Bukan. Sebenarnya kalian pun memang sudah muak dengan obrolan semu itu. Kepura-puraan kalian. Bahasa yang jadi sekedar kata-kata.
Who would have known how bittersweet this would taste?
Pasca keheningan sepuluh detik yang begitu menyiksa, atas nama benci kalian menjauh. Membuang semuanya dan lainnya dan sejenisnya dan seterusnya. Membuang dunia buatan yang selama ini pernah kalian bagi.
Dengan komitmen masing-masing yang tak diputuskan bersama. Tanpa satupun pertanyaan yang dijawab, tanpa kompromi, tanpa negosiasi. Tak ada yang tuntas. Namun bagimu, dan baginya, melontarkan tadi semua semoga lebih dari cukup.
Sudah enam bulan tak jumpa karena saling menjauh, lalu harus menunggu dipertemukan oleh konspirasi alam raya, dan pertemuan ini cuma menghasilkan ini? Kenapa juga harus bertemu cuma agar berpisah? Kamu tak menyangka, satu kebetulan remeh semesta ternyata bisa berakibat fatal bagi satu manusia.
Inikah akhirnya? Tak ada adegan di ranjang rumah sakit. Tak ada adegan di pemakaman. Tak ada ucapan apa-apa. Tak ada maaf. Tak ada terimakasih. Tak ada sampai jumpa. Tak ada jaga diri baik-baik. Tak ada selamat tinggal. Tak ada, bahkan sekadar untuk, selamat pisah.
Tak ada aba-aba bubar jalan. Tak ada pamit. Tak ada salam. Tak ada peluk, cium, jabat tangan, bahkan sumpah serapah sekali pun yang jadi tanda perpisahan ini. Entah kalian takut atau malas. Dia hanya menyingkir turun menuju eskalator, meninggalkan dirimu yang diserang berbagai ketidakjelasan.
Andai dia tahu betapa sesak melihat dia pergi dengan semua hal yang takkan kembali. Andai dia tahu rumitnya mengubah nama dia jadi sinonim benci. Andai dia tahu betapa sulit perpisahan ini dilakukan sendirian.
Inikah cara dia melaksanakan perpisahan?
I hoped you’d see my face
and that you’d be reminded
that for me,
it isn’t over
Kamu lekas pergi. Rasanya jutaan kilometer saat kamu melengos ke tempat parkir. Rasanya milyaran tahun saat kamu mengambil motormu untuk pulang.
Kamu ingin cepat-cepat sampai rumah, menyeduh cokelat panas, meringkuk di kamar sambil berselimut, lalu bersiap untuk bermimpi. Terbalik. Kamu berharap inilah yang mimpi, kamu sangat ingin bangun dan melihat ponsel lamamu, melihat ini masih September 2009 dan memutuskan takkan berangkat ke kampus, agar takkan bertemu, takkan berkenalan, takkan seperti ini.
Ada satu yang belum kamu jawab. Maka spontan kamu keluarkan ponselmu dan menulis satu jawaban terakhir,
You asked me do I love you?
YES. As always yes.
Lalu mengirimnya langsung ke nomor yang begitu kamu hapal, Satria. Sent.
Kamu tersenyum muak dan pada nomor yang barusan itu. Lalu tanpa berpikir sekali lagi, langsung kamu hapus saat itu juga. Deleted. Sebagaimana yang kauharapkan terjadi pada kenanganmu atasnya.
“Look!” ujarmu seketika pada diri sendiri, langsung mengalihkan perhatian dari pikiran yang kontan limbung. “I can stand by myself!”
Pandanganmu, untuk ketiga kalinya, mulai buram terhalang air.
Kamu harus cari ide lagi agar pikiranmu teralihkan. Kamu baru akan diskusikan krisis ekonomi Eropa Barat atau perhitungan astrofisika planet Nibiru dalam hati saat tiba-tiba satu pesan masuk. Pesan dari nomor tak bernama. Nomor yang, meski anonim, kamu tahu persis itu siapa. Isinya,
Whose number is this?

ya sudahi sajalah....
ReplyDeleteayo raka, kembali normal dong :D
harapanmu raka akan jd bagaimana? :)
Deletejangan mara2 sihh.... bntar lagi tgl 25...brrt bntar lagi tamat...ga redooooo
ReplyDelete6 hari lagi :)
Deleteraka, satria, dika dan satu lagi :p