Saturday, December 29, 2012

Cerita 29
Satria Rizan

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


I

Satria

Rumah Satria, 17 Juni 2010 pukul 07.27 

“Selamat pagi!” ujarmu padaku cengengesan. Bau keringat, muka mengkilat dan nafas tak sedap itu ada pada setiap kita, tapi rasa seganmu untuk menyapa saat bangun itu lenyap entah ke mana. Masih di ruangan yang jadi saksi bisu janji kita kemarin malam.

Kamu menempelkan tanganku ke dahiku, satu lagi ke dahimu. “Demamku sudah turun dalam semalam. Terimakasih,” katamu.

ASTAGA

“Kenapa kak?”

KENAPA AKU

“Aku balik ya, nanti siang ada kuliah, ingin beres-beres kos dulu”

KENAPA AKU TEGA

“Aku yang demam kok kakak yang otakmu berhenti?”

Dua orang yang sama, kamar yang sama, suasana tak terdefinisikan. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku melihat korban dari egoku. Aku merasa hina. Aku ingin membunuh diriku sendiri.

Aku kaget bukan kepalang. Aku menarik tanganku dengan cepat. Lalu memakai kausku yang terjatuh di lantai dan bergegas ke kamar mandi. Aku bodoh aku bodoh aku bodoh aku bodoh aku bodoh. Aku masih belum mampu berkata-kata.

Sampai di kamar mandi pandanganku sudah tak fokus. Tanganku gelagapan mencari kran. Begitu dapat, aku cepat menyalakannya deras-deras. Fragmen-fragmen kejadian semalam bermunculan di otakku. Bergantian, tumpuk menumpuk, membebani otakku yang makin tak kuasa. Ada satu sosok yang muncul, sosol yang kukenal baik. Kamu. DUG!

Kamu. Kamu.

Semalaman aku tak tidur. Memikirkan kamu. Kamu yang tak seharusnya ada di sini, dalam ikatan yang seperti ini. TIDAK. Kamu lelaki baik-baik. Seharusnya kamu seperti lelaki lain yang menyukai perempuan, menikah, punya anak. Seharusnya kamu bahagia. Bukan menderita.

Aku mengutuk diriku sendiri yang tega membawamu sejauh ini. Maaf aku berkenalan dengamu. Mencintaimu. Mengubahmu. Membiarkanmu tersesat. Maaf bila akhirnya seperti ini. Maafkan aku. Ini semua memang salahku. Maafkan aku meski aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri.

Air mata.

HARUSKAH?

Aku tahu kita sudah sejauh ini. Namun bagimu tetap ada jalan kembali. Maka pergilah, jauhi aku, selamatkan dirimu. Sebelum kita lebih jauh lagi. Lupakan aku. Jangan hubungi aku lagi. Kembalilah pada hidupmu yang damai, yang tanpa aku. Andai kamu tahu berat sekali memutuskan ini. Pasti sakit pula saat prosesnya, namun kita tak punya pilihan.

Air mata.

BAIKLAH

Terimakasih atas setiap kebersamaan kita. Kamu memang menakjubkan. Kini, jadilah lelaki yang kuat. Percayalah, duniamu tanpa aku, lebih baik dari pada di sini bersamaku. Tinggalkan aku di sini. Tinggalkan aku yang akan menyesal seumur hidup.

Semoga aku belum terlambat. Kali ini aku harus beranikan untuk bicara semua. Baiknya aku kumpulkan tenaga, bergegas menuju kamar, berkata padamu apa yang aku khawatirkan.

Aku menutup kran. Aku bergegas ke kamar. Aku sampai. Aku menyesal mendapatimu sudah hilang tanpa pesan.

II

Satria

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 18.03

“Eh, kok si Dika ikutan lagi?” ujarmu padaku yang baru datang, bersama dia.

Empat teman yang sudah datang lebih awal hanya menoleh padamu.

“Aku yang ajak,” responku.
Maaf Raka. Ini agar kamu mulai membenciku. Kamu lelaki baik-baik, harusnya kamu berpacaran dengan perempuan, menikah, berkeluarga. Bukan denganku.

“Aku kira cuma kita berenam”

Aku mengangkat bahu.

“Kemarin-kemarin kakak ke mana? Kenapa sulit dihubungi?”

“Oh, ponselku gangguan.”
Maaf Raka. Aku sedang mengumpat diriku yang telah membawamu sejauh ini.

“Oh” jawabku hambar.

Barcode Billiard, 24 Juni pukul 2010 20.21

“Raka, kamu sakit?” tanyaku.
Raka, kamu baik-baik saja kan? Maaf kita pernah bertemu 

“Gak apa-apa,” responmu.

“Baru kali ini kamu kelihatan murung pas main”
Maaf Raka, bencilah aku sekarang juga dan pergilah, selamatkan dirimu.

“Oh ya?”

Pelataran Dago Plaza, 24 Juni 2010 pukul 23.47

“Kamu aneh hari ini,” katamu.
Maaf Raka, selamatkan dirimu. Kamu terlalu baik untuk cinta yang begini.

“Memang. Baru sadar?” kataku.

“Kamu gak suka dibawa ke billiard ya?”
Andai kamu tahu betapa tersiksanya aku membawamu ke sini. Cepat benci aku.  Aku tak tahan melihatmu menderita. Lekas. Kembalilah ke duniamu yang dulu.

“Tuh tahu.” 

III

Satria 

Skywalk Cihampelas Walk, 24 Desember 2010 pukul 19.33

Andai kamu tahu, betapa aku memintamu pergi karena aku cinta. Andai kamu tahu betapa memutuskan ini seperti memutus urat nadiku sendiri. Andai kamu tahu betapa sulit melakukan perpisahan yang terpaksa direncanakan. []

8 comments: