I
Prolog
Perkenalan
Pada awalnya adalah sebuah perkenalan. Di satu pertemuan komunitas kampus. Sore hari. Saat hujan. Ketika Rio menyebut nama dan menyambut salamnya, tak ada yang Rio pikirkan. Hanya berkenalan. Itu saja.
Perkenalan biasa itu berkembang di luar perkiraan. Dia mengajak Rio bermain. Bermain, jalan, karaoke yang biasa saja. Lalu kebersamaan itu berkembang lebih erat. Kebersamaan yang jadi persahabatan.
Detik demi detik. Jam demi jam. Hari demi hari. Tiap kerikil itu terpadatkan satu per satu. Membangun gunung perasaan yang tak ada tandingan. Hingga akhirnya sulit dihancurkan.
Tanpa disadari. Rupanya persahabatan itu berubah arah. Persahabatan ini mulai bicara cinta. Cinta yang biasa. Seharusnya. Seharusnya cinta yang biasa.
Tapi cinta ini tidak biasa. Rio lelaki. Dia juga lelaki. Lelaki dengan lelaki. Kenapa juga tak boleh ada cinta hanya karena kelamin sama? Rio tak tahu.
Rio mengulas kenapa dirinya harus kenal, harus dekat, harus intim, bila akhirnya ditinggal pergi. Ditinggal dalam kesendirian. Tanpa bisa cerita pada siapa-siapa. Lagi pula siapa yang mau dengar bahwa Rio patah hati karena seorang lelaki?
Maka Rio ingin sendiri.
Perkenalan biasa itu berkembang di luar perkiraan. Dia mengajak Rio bermain. Bermain, jalan, karaoke yang biasa saja. Lalu kebersamaan itu berkembang lebih erat. Kebersamaan yang jadi persahabatan.
Detik demi detik. Jam demi jam. Hari demi hari. Tiap kerikil itu terpadatkan satu per satu. Membangun gunung perasaan yang tak ada tandingan. Hingga akhirnya sulit dihancurkan.
Tanpa disadari. Rupanya persahabatan itu berubah arah. Persahabatan ini mulai bicara cinta. Cinta yang biasa. Seharusnya. Seharusnya cinta yang biasa.
Tapi cinta ini tidak biasa. Rio lelaki. Dia juga lelaki. Lelaki dengan lelaki. Kenapa juga tak boleh ada cinta hanya karena kelamin sama? Rio tak tahu.
Rio mengulas kenapa dirinya harus kenal, harus dekat, harus intim, bila akhirnya ditinggal pergi. Ditinggal dalam kesendirian. Tanpa bisa cerita pada siapa-siapa. Lagi pula siapa yang mau dengar bahwa Rio patah hati karena seorang lelaki?
Maka Rio ingin sendiri.
Posting
II
Posting
Posting
Ayunita : Ini dua-duanya laki-laki Raka?
Raka : Silakan simpulkan sendiri hehe
Posting
Posting
Tika : Aku suka gaya ceritamu
Raka : Hehe terimakasih
Posting
Posting
Posting
Tika : Aku suka gaya ceritamu
Raka : Hehe terimakasih
Posting
Posting
Posting
Posting
Posting
Posting
Posting
Posting
Posting
Asmara : Agak geli waktu sadar kalau keduanya pria. Tp kalau aku bayangin tokoh di cerita sebelas itu laki-laki dan perempuan, maka buat aku cerita sebelas sangatlah unyu dan romantis :D
Raka : Oh ya? Sama aku juga geli waktu nulisnya haha
Posting
Hadi : Andai Rio ada di dunia nyata... Gila...
Raka : Dia ada
Posting
Posting
Posting
Raka : Di akhir cerita, aku bakal putar realitas.
Hujan : Wah pasti semakin bertanya-tanya
Posting
Posting
Saras : Baiklah... cerita besok bakal lebih rame nih.. ga sabar nunggu besok :p
Raka : Yiiihaaaa... Heh kamu yang penasaran, itu yang 18 Desember udah ada
Posting
G : Cie kangen yang dulu ya?
Raka : Nemu fotonya di facebook :(
Posting
Posting
Posting
Asmara : Agak geli waktu sadar kalau keduanya pria. Tp kalau aku bayangin tokoh di cerita sebelas itu laki-laki dan perempuan, maka buat aku cerita sebelas sangatlah unyu dan romantis :D
Raka : Oh ya? Sama aku juga geli waktu nulisnya haha
Posting
Hadi : Andai Rio ada di dunia nyata... Gila...
Raka : Dia ada
Posting
Posting
Posting
Raka : Di akhir cerita, aku bakal putar realitas.
Hujan : Wah pasti semakin bertanya-tanya
Posting
Posting
Saras : Baiklah... cerita besok bakal lebih rame nih.. ga sabar nunggu besok :p
Raka : Yiiihaaaa... Heh kamu yang penasaran, itu yang 18 Desember udah ada
Posting
G : Cie kangen yang dulu ya?
Raka : Nemu fotonya di facebook :(
Posting
Posting
Posting
Al jafara : Tenang Rio, sampai sekarang aku masih ikuti ceritamu kok
Raka : Terimakasih telah mengikuti cerita ini hingga hari ke-21 :)
Posting
Posting
Posting
Posting
Rachmiani : Iiiiih kamuuu... Cerita yang kemarin kenapa kosong gitu? Bodor.
Raka : Apalagi cara yang paling ampuh gambarkan kekosongan selain kosong itu sendiri?
Posting
Posting
Azkiya : Oh ya aku ngga sengaja baca 24 jam-nya Andrei Aksana. That makes me realize that you’re much like him. The style
Raka : Oh ya? Masa sih?
Posting
Posting
Deyn : Dari awal aku sudah sadar bahwa tokoh Rio itu sebenarnya kamu
Raka : Oh ya? Hahaha
Posting
Rachmiani : Iiiiih kamuuu... Cerita yang kemarin kenapa kosong gitu? Bodor.
Raka : Apalagi cara yang paling ampuh gambarkan kekosongan selain kosong itu sendiri?
Posting
Posting
Azkiya : Oh ya aku ngga sengaja baca 24 jam-nya Andrei Aksana. That makes me realize that you’re much like him. The style
Raka : Oh ya? Masa sih?
Posting
Posting
Deyn : Dari awal aku sudah sadar bahwa tokoh Rio itu sebenarnya kamu
Raka : Oh ya? Hahaha
Posting
Posting
Epilog Posting
III
Bandung---21 November 2012---pukul enam sore
Aku
Aku duduk bersama seorang teman. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kami saling curhat. Kami saling jujur. Membuka pengalaman. Soal aku dan kamu.
Tak pernah aku sangka aku bisa cerita ini. Cerita bahwa aku pernah menyukai lelaki. Aku merasa dimengerti. Aku merasa dipahami. Aku merasa dihargai.
Saya
Saya duduk bersama kamu. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kita saling curhat. Kita saling jujur. Membuka pengalaman. Soal kamu dan dia.
Tak pernah saya sangka kamu bisa cerita ini. Cerita bahwa kamu pernah menyukai lelaki. Saya ingin mengerti. Saya ingin pahami. Saya ingin hargai.
Dirinya
Dirinya duduk bersama teman dirinya. Di tempat makan pinggir kampus. Berawal dari penjelasan konsep seks, gender dan seksualitas, akhirnya kalian saling curhat. Kalian saling jujur. Membuka pengalaman. Soal dirinya dan dirimu.
Tak pernah diriku sangka dirinya bisa cerita ini. Cerita bahwa dirinya pernah menyukai lelaki. Diriku harus mengerti. Diriku harus pahami. Diriku harus hargai.
Bandung---21 November 2012---pukul delapan malam
Aku
“Jadi begitulah kisahku” kataku.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata teman.
Saya
“Jadi begitulah kisahku” katamu.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata saya.
“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” katamu.
“Oh ya? Kamu berani?” kata saya.
Dirinya
“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” kata dirinya.
“Oh ya? Kamu berani?” kata teman dirinya.
“Mungkin”
“Apa namanya?” tanya teman dirinya lagi.
Saya
“Apa namanya?” tanya saya lagi.
Aku
“Apa namanya?” tanya teman lagi.
“Kertas kusut,” jawabku.
Untuk Satria dalam kehidupan nyata []
“Jadi begitulah kisahku” kataku.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata teman.
Saya
“Jadi begitulah kisahku” katamu.
“Aku tak sangka kamu pernah suka lelaki” kata saya.
“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” katamu.
“Oh ya? Kamu berani?” kata saya.
Dirinya
“Hahaha.. Aku bakal nulis cerita ini” kata dirinya.
“Oh ya? Kamu berani?” kata teman dirinya.
“Mungkin”
“Apa namanya?” tanya teman dirinya lagi.
Saya
“Apa namanya?” tanya saya lagi.
Aku
“Apa namanya?” tanya teman lagi.
“Kertas kusut,” jawabku.
Untuk Satria dalam kehidupan nyata []

Rakaaaaaa,,slamat taun baru :)
ReplyDeleteWkwkwk selamat tahun baru juga jani :p
DeleteMakasih udah mengikuti cerita ini hingga akhir :)
Dan kertas kusut pun berhenti sampai di sini. Sekarang giliran pembaca, bagaimana menginterpretasi?
ReplyDeleteTerimakasih hujan, eh ria, telah mengikuti cerita ini hingga akhir. Interpretasimu sendiri seperti apa?
Delete*Ada satu epilog jangan terlewat :p