(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
Operator
Ini dia rombongan itu sudah di pintu masuk. Coba aku cek orang-orangnya. Tiga laki-laki dan tiga perempuan. Lengkap.
Lelaki nomor satu, wajahnya punya bekas cukur yang kentara. Rambutnya mengarah langit. Badannya berisi dan yang paling tinggi. Dia selalu sebelah si lelaki nomor dua. Wajah yang seperti siswa SMA, tapi aku dengar mereka sudah kuliah. Badannya tidak kurus, namun lebih ramping dari si nomor satu. Rambutnya diatur belah pinggir, sedikit acak-acakan. Kedua lelaki ini selalu aku lihat paling akrab. Sekilas pun, keduanya nampak begitu mirip. Lelaki ketiga, nampaknya dia suka berlelucon. Dia kerap sibuk menghibur tiga perempuan lain.
Perempuan-perempuannya bagi aku tidak kalah aneh. Perempuan satu bertubuh tambun dan selalu tersenyum. Gayanya aku lihat paling santai, dia sering memakai sandal. Perempuan kedua lebih aktif, langkahnya lebar-lebar. Yang kedua ini kalau bicara mirip teriak dan apa adanya. Kedua perempuan ini amat kontras bila dibandingkan dengan perempuan ketiga. Yang ketiga ini terlihat begitu tenang. Dia hanya akan tersenyum simpul sesekali. Bagi aku, bila mereka adalah keluarga, perempuan ketiga ini pasti ibunya.
Aku sedikit bertanya-tanya. Kenapa sejak Februari hingga Maret ini mereka rajin sekali datang menonton film? Mereka datang seminggu dua hingga tiga kali. Biasanya mereka datang sore, lalu mengobrol riuh dulu, kadang pula berfoto-foto dulu, barulah mereka pesan tiket. Film yang mereka ingin tonton pun tak bisa kutebak. Kadang aksi, kadang komedi, kadang misteri. Aku kira, tak penting apa yang mereka tonton, yang penting mereka bisa bersama pergi.
Film apa pun yang mereka pilih, biasanya yang menuju loket adalah lelaki pertama dan yang kedua. Keduanya kadang bertanya-tanya antara aku dan mereka. Usai itu mereka pasti memilih bangku sebaris. Terbayanglah suasana menonton mereka. Mereka pasti tertawa cekikikan sementara film diputar. Oh ya, baru terpikir olehku, jangan-jangan kedua lelaki itu ...
Lelaki nomor satu, wajahnya punya bekas cukur yang kentara. Rambutnya mengarah langit. Badannya berisi dan yang paling tinggi. Dia selalu sebelah si lelaki nomor dua. Wajah yang seperti siswa SMA, tapi aku dengar mereka sudah kuliah. Badannya tidak kurus, namun lebih ramping dari si nomor satu. Rambutnya diatur belah pinggir, sedikit acak-acakan. Kedua lelaki ini selalu aku lihat paling akrab. Sekilas pun, keduanya nampak begitu mirip. Lelaki ketiga, nampaknya dia suka berlelucon. Dia kerap sibuk menghibur tiga perempuan lain.
Perempuan-perempuannya bagi aku tidak kalah aneh. Perempuan satu bertubuh tambun dan selalu tersenyum. Gayanya aku lihat paling santai, dia sering memakai sandal. Perempuan kedua lebih aktif, langkahnya lebar-lebar. Yang kedua ini kalau bicara mirip teriak dan apa adanya. Kedua perempuan ini amat kontras bila dibandingkan dengan perempuan ketiga. Yang ketiga ini terlihat begitu tenang. Dia hanya akan tersenyum simpul sesekali. Bagi aku, bila mereka adalah keluarga, perempuan ketiga ini pasti ibunya.
Aku sedikit bertanya-tanya. Kenapa sejak Februari hingga Maret ini mereka rajin sekali datang menonton film? Mereka datang seminggu dua hingga tiga kali. Biasanya mereka datang sore, lalu mengobrol riuh dulu, kadang pula berfoto-foto dulu, barulah mereka pesan tiket. Film yang mereka ingin tonton pun tak bisa kutebak. Kadang aksi, kadang komedi, kadang misteri. Aku kira, tak penting apa yang mereka tonton, yang penting mereka bisa bersama pergi.
Film apa pun yang mereka pilih, biasanya yang menuju loket adalah lelaki pertama dan yang kedua. Keduanya kadang bertanya-tanya antara aku dan mereka. Usai itu mereka pasti memilih bangku sebaris. Terbayanglah suasana menonton mereka. Mereka pasti tertawa cekikikan sementara film diputar. Oh ya, baru terpikir olehku, jangan-jangan kedua lelaki itu ...
“Mbak mbak,” suara lelaki pertama menghancurkan lamunanku. Ternyata dia sudah sampai di loket. Astaga, aku melamun sampai hilang fokus. Aku lihat sebelahnya, benar saja, ada si lelaki kedua.
“Ah, mohon maaf, kakak,” kataku penuh kontrol. “Mau nonton film apa, kakak?”
Lelaki pertama menoleh pada yang kedua dan bertanya, “Heh kamu, film apa ya?”
Tiba-tiba, dari bangku, si perempuan kedua teriak sambil menunjuk satu poster film, “Satria! Yang itu aja!” Lelaki satu menoleh.
Oh namanya Satria.
“Oke yang itu aja kak,” kata lelaki kedua.
Oh mereka adik kakak. Pantas mirip.
“Oke, mbak, Clash of the Titans aja,”
Perempuan barusan teriak lagi, “Raka! Nitip popcorn asin dua!”
Oh namanya Raka.
“Oke kakak, enam tiket?” tanyaku yakin benar takkan meleset. Satria nampak kaget soal tepatnya tebakanku. Tak lama ia mengangguk.
“Popcorn asinnya dua, mbak,” tambah Raka.
“Iya kakak, tunggu sebentar ya,”
Setelah mengonfirmasi jam dan nomor teaternya, Satria dapatkan enam lembar tiket itu. Raka yang membawa popcorn-nya. Mereka berbalik.
Oh adik kakak yang bahagia
Keduanya menuju keempat temannya yang seperti biasa duduk di sofa. Aku perhatikan gerak-gerik mereka yang sudah begitu kuhapal. Namun kali ini ada yang berbeda. Satria memegang tangan Raka. Digenggam malah. Benar-benar tak kusangka. Lamunanku yang tadi terputus berlanjut kembali.
Aku tahu mereka bukan saudara.
Berarti mereka itu.... Aha! []
Berarti mereka itu.... Aha! []
Mereka itu bersahabat bagai kepompong :D
ReplyDeletedibuat sangat sangat sangat haluuuus :p
DeleteAha!
ReplyDeleteternyata menggenggam tangan toh
ReplyDeletehmmmm