(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
Aku
Saat kamu melihatku hanya duduk diam, ditemani enam bungkus cokelat yang habis dimakan berantakan di sisi, kamu tahu aku sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa?” Tanyamu penuh pura-pura.
Aku menoleh dan tersenyum kendur. Membuatmu yakin bahwa keadaanku memang tak baik. Kamu tersenyum maklum. Sekadar tanda dirimu turut prihatin.
“Aku baik,” balasku parau. Senyumku makin longgar.
“Syukurlah,” balasmu sekenanya. Kamu langsung pergi karena kamu tahu aku berbohong. Kamu pergi sekadar memberiku ruang gerak dalam sendiri. Kita sama-sama tahu.
Di sudut kampus yang kembali sepi, aku terdiam. Aku menarik nafas agar kuat mengingat pagi ini. Soal hari buruk yang kualami, yang memaksaku berhenti dan sejenak menenangkan diri, yang tak berpihak pada diri ini.
Sekilas kulihat luka seluas telunjuk di lutut kananku, tersingkap dari balik celanaku yang juga robek. Sudah bersih dari pasir, tapi perihnya masih ada. Besok pasti gatal, pikirku. Sial.
Aku benci pada pengendara motor yang melawan veerboden dan menyerempetku hingga jatuh. Aku benci padanya yang malah menghardikku. Aku benci pada warga yang hanya diam, membuatku harus bangkit sendiri dan akhirnya lanjut pergi.
Aku benci dosenku yang bilang aku tidak disiplin karena terlambat. Padahal, andai ia tahu, kecelakaan ini tidak masuk agendaku. Aku tidak pernah punya rencana jatuh dari motor hingga telat masuk. Untuk apa pula?
Makanya, bila teman-temanku kini sedang belajar, aku yang tak boleh masuk kini duduk saja di taman kampus. Setelah sebelumnya membersihkan lukaku di toilet, aku melahap enam bungkus cokelat yang saat itu langsung kubeli.
Sambil mengunyah aku duduk mencari matahari atau daun atau burung berkicau atau apa pun. Berusaha mencari alasan agar tetap baik di pagi ini. Saat kusadar cokelat ini gagal membantu, maka aku menghubungimu yang sedang kuliah untuk datang. Dalam tiga puluh menit kamu sudah tiba, melihatku kacau seperti tadi.
Kehadiranmu adalah obat itu.
Kumohon tetaplah kamu seperti ini. Tetaplah datang dan bertanya ‘kenapa?’ penuh basa basi. Tetaplah memberiku ruang untuk sendiri, lalu kembali lagi sambil menggenggam susu cokelat dan roti. Tetaplah jadi orang yang tanpa perlu bersuara, menyodorkan makanan dari samping kiri.
Janganlah berganti. Tetaplah jadi yang seperti ini. Yang usai melihat lukaku tak perlu bicara apa-apa, tak berkomentar apa-apa, tak memberikan nasihat apa-apa, tak menyalahkan aku atau siapa-siapa. Cukup duduk diam, mengacak rambutku lalu berkata, “Heh kamu, makan dulu rotinya.”
Maka aku bisa lanjutkan hariku lagi tanpa rasa khawatir. []
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)
Aku
Saat kamu melihatku hanya duduk diam, ditemani enam bungkus cokelat yang habis dimakan berantakan di sisi, kamu tahu aku sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa?” Tanyamu penuh pura-pura.
Aku menoleh dan tersenyum kendur. Membuatmu yakin bahwa keadaanku memang tak baik. Kamu tersenyum maklum. Sekadar tanda dirimu turut prihatin.
“Aku baik,” balasku parau. Senyumku makin longgar.
“Syukurlah,” balasmu sekenanya. Kamu langsung pergi karena kamu tahu aku berbohong. Kamu pergi sekadar memberiku ruang gerak dalam sendiri. Kita sama-sama tahu.
Di sudut kampus yang kembali sepi, aku terdiam. Aku menarik nafas agar kuat mengingat pagi ini. Soal hari buruk yang kualami, yang memaksaku berhenti dan sejenak menenangkan diri, yang tak berpihak pada diri ini.
Sekilas kulihat luka seluas telunjuk di lutut kananku, tersingkap dari balik celanaku yang juga robek. Sudah bersih dari pasir, tapi perihnya masih ada. Besok pasti gatal, pikirku. Sial.
Aku benci pada pengendara motor yang melawan veerboden dan menyerempetku hingga jatuh. Aku benci padanya yang malah menghardikku. Aku benci pada warga yang hanya diam, membuatku harus bangkit sendiri dan akhirnya lanjut pergi.
Aku benci dosenku yang bilang aku tidak disiplin karena terlambat. Padahal, andai ia tahu, kecelakaan ini tidak masuk agendaku. Aku tidak pernah punya rencana jatuh dari motor hingga telat masuk. Untuk apa pula?
Makanya, bila teman-temanku kini sedang belajar, aku yang tak boleh masuk kini duduk saja di taman kampus. Setelah sebelumnya membersihkan lukaku di toilet, aku melahap enam bungkus cokelat yang saat itu langsung kubeli.
Sambil mengunyah aku duduk mencari matahari atau daun atau burung berkicau atau apa pun. Berusaha mencari alasan agar tetap baik di pagi ini. Saat kusadar cokelat ini gagal membantu, maka aku menghubungimu yang sedang kuliah untuk datang. Dalam tiga puluh menit kamu sudah tiba, melihatku kacau seperti tadi.
Kehadiranmu adalah obat itu.
Kumohon tetaplah kamu seperti ini. Tetaplah datang dan bertanya ‘kenapa?’ penuh basa basi. Tetaplah memberiku ruang untuk sendiri, lalu kembali lagi sambil menggenggam susu cokelat dan roti. Tetaplah jadi orang yang tanpa perlu bersuara, menyodorkan makanan dari samping kiri.
Janganlah berganti. Tetaplah jadi yang seperti ini. Yang usai melihat lukaku tak perlu bicara apa-apa, tak berkomentar apa-apa, tak memberikan nasihat apa-apa, tak menyalahkan aku atau siapa-siapa. Cukup duduk diam, mengacak rambutku lalu berkata, “Heh kamu, makan dulu rotinya.”
Maka aku bisa lanjutkan hariku lagi tanpa rasa khawatir. []
blog yang ringkas tapi mengasikan, salam kenal sob,..
ReplyDeletefollback yah
terimakasih udah berkunjung, salam kenal juga :)
Deletemasih aruk" kepala...
ReplyDeletemasih nebak" ceritanya :D
eh, jgn lupa di tweet dong, aq lupa je ^^
heheheh ceritanya saya tulis sehalus mungkin, tanpa justifikasi sama sekali... terimakasih telah mengikuti cerita ini, yg hari ini sudah saya mention :)
Deletekalau ngga mau, rotinya buat aku ajaaa...
ReplyDeletehehe boleh boleh, ambil aja :)
Deletemakasih telah berkunjung
roti itu masih ada
ReplyDelete:p
tambah penasaran.....
ReplyDelete