Friday, December 7, 2012

Cerita 7
Energi

(Baca mulai dari tengah boleh jadi membingungkan,
bila dirasa perlu, silakan mulai dari prolog)


Saya
Kamu ini zombie.

Baru tiga jam yang lalu kamu tidur. Cangkir kopi sisa tertawan di mejamu. Sebelahnya ada kertas tugasmu yang terlipat.

Kini matahari sudah sombong, jalanan sudah macet, dan ibumu sudah mendesakmu pergi. Maka berbekal energi separuh, kamu bangun, lalu erahkan tenaga menuju kampus.

Rasanya sudah dua bulan kamu seperti itu. Bangun pagi, ke kampus, bermain hingga malam, pulang larut, langsung tidur beringsut dan begitu seterusnya.

Bila seharusnya kamu sudah meringkuk berselimut, malam ini kamu masih di pusat kota. Bersama siapa lagi kalau bukan bersama dia? Saat ini kalian pasti baru berangkulan keluar, dan usai pamit-pamit seolah takkan bertemu lagi, kalian berpisah, dan di jalan kalian akan berbincang lagi lewat belasan sms tiada habis hingga larut. Entah dari mana energimu itu.

Berat badanmu turun tiga kilo di minggu pertama. Sayur mayur sudah seminggu tak diasup. Susu baru masih disegel tak tersentuh. Rambut sudah sampai kerah. Kantung mata yang mencolok. Semuanya muncul sebagai peringatan.

Saat ibumu berkunjung, ia kerap mengomel soal kesehatanmu. Soal mie instan yang dikonsumsimu selepas tengah malam, soal sarapan yang ketinggalan, juga soal belasan bungkus kopi yang ditemukan di tong sampah, bahkan balik kasurmu.

Ibumu fokus benar pada fisikmu. Apakah anaknya punya perut cekung, mata sembab, tubuh yang gemetar, hingga rambut ketombean atau tidak.

Namun ibumu agaknya lupa, di balik semua, di wajah anak lelakinya itu, bibirnya melelengkung tiada henti. Bulan lalu hingga bulan ini. Kemarin dan hari ini. Hingga detik barusan.

Kamu memang tak pernah peduli. Lagi pula, apa artinya semua itu bila dengannya kamu bisa bertemu sahabat hati? Bagi kamu, bila lelah adalah harga yang harus dibayar agar bisa karoke bersamanya, kamu rela sepenuhnya. Jika mata sembab adalah tanda kamu menonton dengannya, itu tidaklah rugi. Sungguh benar-benar transaksi yang sepadan.

Bagimu, cadangan lemak yang hilang bisa diasup lagi, mata yang menghitam bisa ditebus tidur, rambut yang terlanjur panjang bisa ditata dulu, selalu tak ada waktu, selalu ada nanti.

Tapi untuk pergi bersama dia, meski sudah tiap hari, sekalipun dompet hampir tak ada isi, rasanya kapan lagi?



“Heh kamu, pergi lagi yuk!” ujar Satria menepuk bahumu. Kalimat itu. Energi itu. Otomatis kamu berdiri mengikuti.

Maka sambil mengangkat kedua tangan kamu berikar dalam hati: Aku zombie. Aku zombie bertenaga, aku zombie yang bahagia!

Dasar kamu gombal! []

9 comments: