Kau
“Boleh kenalan?” Kau baca tulisan itu di testimoni Friendster enam tahun yang lalu.
“Boleh kenalan?” Kau baca tulisan itu di testimoni Friendster enam tahun yang lalu.
Kepada pemilik akun di seberang sana, kau akui ia adalah lelaki menarik. Di fotonya ia senyum sederhana saja, memakai kacamata yang biasa saja, ia manusia serba biasa, hanya saja kau rasa ada yang berbeda pada ia.
Pertemanan diterima
Hanya beberapa hari dan lantas kalian janjian untuk bertemu. Hari Minggu di pasar kaget lapang Gasibu Bandung. Dengan canggung kau menyapa, ia balas sekenanya. Namun justru karena itulah, hari itu kau putuskan suka dengannya. Dengan ia yang baru kau kenal tidak sampai satu minggu lalu.
Kau mencoba peruntungan untuk nyatakan cinta saat itu juga. Perjudianmu berhasil dan ia resmi jadi pacarmu. Saat itu kau sudah punya pacar, seorang perempuan yang kau kenal sejak SD hingga SMA sekolah bersama. Tapi pacar barumu ini beda. Benar-benar beda. Pasti itulah alasanmu.
Kau berubah, pacar pertamamu jadi terabaikan. Kau jadi suka main ke indekos pacar barumu, bermain bersama, main piano dan bernyanyi bersama, saling berbagi mesra, tidur bersama. Kalian berciuman, bermesraan. Tapi tak di mall, atau taman, atau restoran, karena orang lain pasti bergunjing. Cukup di indekos saja.
Kau sama sekali tak mampu berkata saat melihat sms mesra dari inisial SR malam itu. Ia yang sedang tidur lantas kau bangunkan dengan kasar. Mendebrak alam mimpinya dengan segudang pertanyaan penuh rasa cemburu.
“Heh Dika, siapa sih SR? Bukan si Satria Rizan kan?!” tanya kau berbau curiga.
“Apaan sih?! Ganggu gue tidur aja lo, Nathan!” ketus ia gelagapan.
“Heh jawab dong, elo gak sama cowok lain kan?!”
“Elo tuh sama cewek lu terus!”
Kasur itu hanya diam. Menjadi saksi pertengkaran hebat kalian malam itu. Kalian bertengkar hebat. Kalian saling memukul. Gelas jatuh dan pecah. Kau merasa dikhianati, kau merasa dipermainkan. Gigil malam itu tak surutkan niatmu untuk pulang saat itu juga. Membawa motor kencang, kau mengumpat pertemuan di Friendster satu tahun sebelumnya.
Kau ingat pacar lamamu, perempuanmu. Hatimu mengumpat pacarmu yang baru putus itu. Tapi di lubuk hatimu yang terdalam, sebenarnya kau hanya mengumpat dirimu yang bisa-bisanya mencintai seorang lelaki. Seorang lelaki bernama Andika Nugraha.
Kemarin di Facebook kau iseng mengajak kenalan orang baru : Raka Ryandika
Pertemanan diterima.
Kau tulis di dindingnya. “Hai, boleh kenalan?”
Kamu
“Hai, boleh kenalan?” Kamu baca tulisan itu di dinding Facebook kemarin.
Orang itu bukan pertama kali kamu tahu. Nama itu sudah beberapa kali disebut oleh dia dan ia di berbagai tempat, waktu dan kesempatan. Nama yang kamu lihat di daftar pesan Facebook ia. Nama yang masih punya perasaan pada ia. Mantar pacar ia. Mantan pacar Andika.
Maka kamu langsung menulis pesan pada kau.
Hai Jonathan, kenal aku dari Dika ya?
Ok aku app :)
Kau dan Kamu
Jonathan dan Raka yang kesepian. Bertemu dalam satu kebetulan. Berkenalan. Berbagi satu pengalaman. Berbagi satu keluhan. Berbagi satu tujuan.
Inikah permulaan? {}

jah...
ReplyDeleteini mau ganti orang ya??? Laki lagi??? hihii
tq buat kertas kusutnya... jd pengen baca lagi novelku yg Lelaki Terindahnya Andrei Aksana
hem... emang beneran tuh kisah nyata ya??